Ilustrasi. Foto: Magnific.
Harga Emas Naik Setelah Turun 3,4% Pekan Lalu, Ini Pemicunya
Ade Hapsari Lestarini • 5 October 2026 08:33
Jakarta: Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Senin setelah mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Juni. Penguatan terjadi setelah perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Namun, tingginya imbal hasil obligasi Treasury dan kenaikan harga minyak masih membatasi penguatan harga emas. Pada pukul 20.40 ET (00.40 GMT), XAU/USD naik 0,3 persen menjadi USD4.153,66 per ons. Harga emas sebelumnya turun 3,4 persen sepanjang pekan lalu.
Sementara itu, XAG/USD atau harga perak naik 1,3 persen menjadi USD61,15 per ons setelah merosot lebih dari enam persen pada pekan lalu. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak pertengahan Juli.
Harga platinum dan paladium juga menguat. Sementara itu, dolar AS bergerak relatif stabil setelah mencatat penguatan selama tiga pekan berturut-turut.
Data tenaga kerja AS redam ekspektasi kenaikan bunga The Fed
Data nonfarm payrolls AS menunjukkan jumlah lapangan kerja hanya bertambah 29 ribu pada September. Angka tersebut berada di bawah ekspektasi analis. Data perekrutan yang lebih lemah mengurangi tekanan bagi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi yang masih berlanjut.
Pasar kini memperhitungkan probabilitas sekitar 20 persen untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, turun tajam dari sekitar 70 persen pada pekan sebelumnya. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan pendapatan bunga.
.jpg)
Ilustrasi emas batangan. Foto: ChatGPT.
Perlambatan pasar tenaga kerja terjadi setelah harga emas turun lebih dari enam persen pada September. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dalam satu bulan sejak Juni, di tengah kekhawatiran investor inflasi yang dipicu kenaikan harga energi dapat membuat suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Para pejabat The Fed juga terus menepis ekspektasi mengenai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Risalah rapat The Fed pada September, saat para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, akan dirilis pada pertengahan pekan ini dan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter.
Harga minyak naik, risiko inflasi masih membayangi
Tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda seiring kenaikan harga minyak di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah. Di Yaman, pasukan yang didukung Arab Saudi meluncurkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi yang didukung Iran.
Kenaikan harga energi dapat menjaga inflasi tetap tinggi dan mempersulit prospek kebijakan The Fed, meski data tenaga kerja yang lemah telah mengurangi tekanan jangka pendek untuk menaikkan suku bunga.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury juga masih berada di level tinggi. Sejumlah tingkat imbal hasil bahkan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menepis kekhawatiran mengenai kenaikan biaya pinjaman. Menurutnya, imbal hasil yang lebih tinggi secara umum masih sejalan dengan tren global.
Bagi emas, kombinasi data tenaga kerja yang lebih lemah dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober memberikan dukungan terhadap harga. Namun, menurut ANZ, tingginya imbal hasil obligasi dan kembali munculnya risiko inflasi akibat harga energi masih membatasi potensi kenaikan harga emas.