Ilustrasi bursa saham NYSE, Wall Street. Foto: Xinhua/Michael Nagle.
Data Tenaga Kerja AS Lemah, Kontrak Saham Wall Street Naik
Ade Hapsari Lestarini • 5 October 2026 08:16
Jakarta: Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada Minggu malam setelah Wall Street ditutup positif pada perdagangan Jumat. Penguatan tersebut didorong data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan sehingga meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan ini.
Namun, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury dan harga minyak membatasi penguatan pasar saham.
Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1 persen ke level 7.784,0 poin. Kontrak berjangka Nasdaq 100 menguat 0,3 persen ke level 31.148,0 poin. Sementara itu, kontrak berjangka Dow Jones naik 0,1 persen ke level 51.513,0 poin pada pukul 20.06 ET (00.06 GMT).
Saham-saham AS mengakhiri perdagangan Jumat dengan penguatan setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pemberi kerja hanya menambah 29 ribu lapangan kerja pada September. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan ekonom yang memproyeksikan penambahan 90 ribu lapangan kerja.
Tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen. Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja pada Agustus direvisi turun menjadi 133 ribu dari sebelumnya 162 ribu.
Data tersebut mendorong pelaku pasar menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bank sentral berikutnya. Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 80 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini bulan ini.
Perlambatan pasar tenaga kerja turut mendukung saham sektor teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Pada Jumat, Nasdaq Composite naik 1,2 persen, S&P 500 menguat 0,7 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 0,5 persen.

Ilustrasi. Foto: Magnific.
Yield Treasury dan harga minyak jadi perhatian
Meski demikian, penguatan saham AS masih menghadapi tekanan dari kenaikan kembali imbal hasil obligasi pemerintah dan kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu oleh harga energi.
Imbal hasil Treasury sempat turun setelah laporan tenaga kerja dirilis. Namun, yield kemudian kembali meningkat karena investor masih mengkhawatirkan harga minyak yang tinggi dapat menjaga inflasi di atas tingkat yang diharapkan The Fed.
Harga minyak juga menjadi salah satu risiko utama bagi pasar. Konflik yang melibatkan Iran disebut terus mengganggu pasokan energi. Harga minyak mentah Brent diperdagangkan di atas USD100 per barel, sementara prospek gangguan pasokan yang berkepanjangan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Dampak inflasi dari pasar energi dapat mempersulit prospek kebijakan The Fed meski pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Investor selanjutnya akan mencermati dimulainya musim laporan keuangan kuartal ketiga. Kinerja perusahaan akan menjadi perhatian pasar untuk melihat apakah tingginya biaya pinjaman dan harga energi turut memengaruhi ekspektasi laba.