Rupiah Dibuka ke Rp17.864/USD Kamis Pagi

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka ke Rp17.864/USD Kamis Pagi

Eko Nordiansyah • 24 September 2026 09:09

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan. Rupiah tertekan saat dolar AS meningkat didorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 24 September 2026, rupih berada di level Rp17.864 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 46 poin atau setara 0,26 persen dari Rp17.818 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.798 per USD. Rupiah bergerak menguat dari Rp17.878 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp17.810-Rp17.860 per USD.

Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen.

"Alasan utama BI Rate kembali dipertahankan ialah stabilitas kurs rupiah masih terus bisa dijaga sekaligus mendorong tren pertumbuhan ekonomi Indonesia sambil menekan inflasi," kata Ibrahim.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump yang mengatakan para pejabat AS telah mengadakan pertemuan tiga jam yang "sangat baik" dan produktif dengan perwakilan Iran di New York, yang memunculkan harapan negosiasi pada akhirnya dapat membantu mengakhiri konflik dan meredakan gangguan di sekitar Selat Hormuz.

Di sisi lain, Presiden The Fed wilayah Richmond Thomas Barkin mengatakan tekanan inflasi akan membutuhkan waktu untuk mereda, seraya menambahkan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk mendorong harga menuju target inflasi dua persenyang ditetapkan The Fed. Selain itu, risiko terhadap inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko terhadap pencapaian lapangan kerja.

(Eko Nordiansyah)