Ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Desa Mekar Sari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang dibubarin sekelompok warga. (Istimewa)
Ricuh Pembubaran Ibadah GKPI Rajeg Tangerang Berakhir Damai
Hendrik Simorangkir • 21 September 2026 14:06
Tangerang: Perselisihan terkait pembubaran ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) oleh sekelompok warga di Desa Mekar Sari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, berujung damai setelah dimediasi oleh pihak berwenang. Hasil dari mediasi tersebut, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang permasalahan.
Musyawarah dan proses mediasi berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Rajeg. Agenda ini dihadiri langsung oleh Bupati Tangerang Maesyal Rasyid, Staf Khusus Kementerian Agama Bidang Kerukunan Gugun Gumilar, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tangerang, unsur Muspika Rajeg, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta para pihak terkait.
Kapolresta Tangerang, Kombes Pol. Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, mengapresiasi langkah seluruh pihak yang memilih menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Menurut Indra, penyelesaian melalui dialog menjadi langkah krusial agar insiden tersebut tidak memicu konflik yang lebih luas.
"Yang paling utama adalah menjaga kerukunan dan keamanan masyarakat," kata Indra, Senin, 21 September 2026.

Perselisihan yang terjadi terkait pembubaran ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Desa Mekar Sari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang oleh sekelompok warga dilakukan mediasi. (Metrotvnews.com/Hendrik S)
Indra menegaskan, pihaknya akan terus mengedepankan langkah persuasif serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, FKUB, dan seluruh unsur terkait dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga ketenangan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas, serta menghormati kesepakatan yang telah dicapai bersama," ujar Indra.
Ia menambahkan, keberagaman masyarakat merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Oleh sebab itu, komunikasi dan sikap saling menghormati menjadi kunci penting dalam menyelesaikan setiap perbedaan yang muncul. Ia juga menegaskan bahwa negara menjamin hak setiap warga negara untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
"Polri akan terus hadir untuk menjaga keamanan, memberikan perlindungan kepada masyarakat, dan memastikan setiap persoalan dapat diselesaikan dengan cara-cara yang mengedepankan persatuan, kerukunan, dan kedamaian," jelas Indra.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan masyarakat, Todo Nainggolan, mengapresiasi adanya iktikad baik dan permohonan maaf dari pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Ia berharap seluruh warga dapat kembali merajut kerukunan antarumat beragama.
Dalam kesempatan yang sama, Aji Cahyono turut menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh jemaat GKPI atas insiden pembubaran tersebut. Ia mengakui kekhilafannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari.