Ilustrasi. Foto: Dok MI
BI Kucurkan Rp140,57 Triliun untuk Beli SBN
Eko Nordiansyah • 20 May 2026 15:42
Jakarta: Bank Indonesia (BI) membeli Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp73,28 triliun hingga 19 Mei 2026. Upaya ini untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, sekaligus sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.
"Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian dan mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangan tertulis, Rabu, 20 Mei 2026.
Selain itu, penguatan kebijakan moneter BI terus ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terkendalinya inflasi dalam sasaran, dan memperkuat stabilitas perekonomian. Ia menyebut, kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat.
"Dengan intervensi di pasar offshore melalui NDF dan intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder, didukung dengan penguatan kebijakan transaksi pasar valas dan perluasan instrumen operasi moneter valas," ujar dia.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Perkuat stabilitas nilai tukar rupiah
Perry mengungkapkan, kebijakan suku bunga BI-Rate ditempuh agar tetap konsisten dengan upaya untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan mencapai sasaran inflasi sebesar 1,5 hingga 3,5 persen pada 2026 dan 2027."Kebijakan ini didukung oleh penguatan strategi struktur suku bunga instrumen operasi moneter dengan kenaikan suku bunga SRBI seperti di atas sebagai bagian dari stabilisasi nilai tukar Rupiah," ungkap dia.
Ia mengatakan, BI juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter pro-market untuk mendorong peningkatan aliran masuk modal asing ke dalam negeri sehingga mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Posisi instrumen moneter SRBI pada 18 Mei 2026 tercatat sebesar Rp921,88 triliun, dengan kepemilikan nonresiden yang meningkat menjadi Rp221,59 triliun (24,04 persen dari total outstanding) sehingga turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.