Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Dibuka ke Rp17.683/USD Jumat Pagi
Eko Nordiansyah • 22 May 2026 09:10
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah masih tertekan saat dolar AS juga tertekan laporan kesekatan draf perdamaian antara AS-Iran.
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 22 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.683 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 16 poin atau setara 0,09 persen dari Rp17.667 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.668 per USD. Rupiah justru bergerak menguat dari Rp17.680 per USD pada pembukaan perdagangan hari ini.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Rupiah masih fluktuatif cenderung melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah fluktuatif namun ditutup melemah untuk perdagangan hari ini. Mata uang Garuda akan bergerak di rentang Rp17.660 per USD hingga Rp17.710 per USD.Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump mengatakan perang Iran berada di "tahap akhir", dimana sebelumnya pekan ini mengatakan pembicaraan berjalan dengan baik.
Namun Trump juga memperingatkan ketidakmampuan untuk mencapai kesepakatan akan memicu lebih banyak aksi militer AS terhadap Iran, sehingga membatasi optimisme pasar secara luas. Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga harga minyak relatif tetap tinggi meskipun terjadi penurunan tajam awal pekan ini.
Di sisi lain, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) memperingatkan bank sentral kemungkinan perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target dua persen mereka.
Sementara itu, lanjut Ibrahim, investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo Subianto yang memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batu bara, dan ferro alloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara.
"Kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis Jumat, menyusul defisit kuartal keempat yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar," ujar dia.