Catat Arus Masuk Bersih Rp13,4 Triliun, Wamenkeu: Minat Investor ke SBN Tetap Tinggi

Wamenkeu Juda Agung. Foto: dok MI/Adam Dwi.

Catat Arus Masuk Bersih Rp13,4 Triliun, Wamenkeu: Minat Investor ke SBN Tetap Tinggi

Husen Miftahudin • 21 May 2026 16:40

Jakarta: Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyebut minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tetap tinggi. Menurut Juda, Surat Utang Negara (SUN) tercatat mengalami kelebihan permintaan (oversubscription) 2,4 kali, sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai 2,8 kali.

"Pada April, pasar SBN domestik mencatat arus masuk bersih Rp13,4 triliun," kata Juda dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 21 Mei 2026.

Di pasar internasional, kata dia, Indonesia mencatat sejumlah capaian penting sepanjang 2026. Misalnya, penerbitan sukuk global senilai USD2 miliar mengalami kelebihan permintaan 1,97 kali lipat serta penerbitan Samurai Bond senilai 172 miliar yen Jepang.

Pemerintah juga tengah menyiapkan penerbitan obligasi Panda dan Kangaroo guna memperluas basis investor, mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, serta mendukung stabilitas rupiah.
 

Baca juga: BI Kucurkan Rp140,57 Triliun untuk Beli SBN


(Ilustrasi. Foto: dok MI)
 

Perdalam pasar obligasi


Juda menyatakan Indonesia terus memperdalam pasar obligasi dengan memperhatikan likuiditas, transparansi, dan tata kelola yang baik. Strategi pembiayaan 2026 difokuskan pada pendalaman pasar domestik, diversifikasi sumber pendanaan, serta pengelolaan utang yang bijak.

"Strategi pembiayaan 2026 kami memiliki tiga prinsip. Pertama, kami memprioritaskan utang domestik hingga 70 persen dalam rupiah. Kedua, campuran mata uang yang cermat 25 hingga 30 persen dalam mata uang asing. Ketiga, pengelolaan active liability," jelas dia.

Juda menekankan komitmen memperkuat strategi pembiayaan di tengah gejolak ekonomi global dilaksanakan melalui koordinasi lintas lembaga, pengelolaan fiskal yang disiplin, serta transparansi dalam kebijakan pembiayaan negara.

"Kami menyambut baik pengawasan dari S&P dan lembaga lainnya. Kami juga berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bawah forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Jadi, kebijakan moneter, prudensial, dan kebijakan pasar modal semuanya berjalan seiring," tutur Juda.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)