Dolar AS. Foto: Marketplace.org
Dolar AS Gilas 6 Mata Uang Utama Dunia
Husen Miftahudin • 2 September 2026 08:06
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa waktu setempat, didukung permintaan terhadap aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, lonjakan harga minyak, dan aksi jual di pasar obligasi.
Mengutip Xinhua, Rabu, 2 September 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,25 persen menjadi 99,677.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro turun menjadi USD1,159 dari USD1,1616 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi USD1,3514 dari USD1,355 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 160,20 yen Jepang, lebih tinggi dari 159,80 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,8118 franc Swiss dari 0,8083 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga naik menjadi 1,3894 dolar Kanada dari 1,3855 dolar Kanada. Dolar AS naik menjadi 9,6188 krona Swedia dari 9,5767 krona Swedia.
Ketegangan AS-Iran dorong permintaan dolar
Mengutip Investing.com, dolar mendapat dukungan sebagai aset aman setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Media pemerintah Iran menyebut serangan tersebut mengenai sebuah pabrik di Qeshm serta sejumlah target nonmiliter di Hormozgan.
Ketegangan meningkat setelah AS dan Iran sebelumnya berselisih terkait kendali atas Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump sempat mengubah pendekatan dari aksi militer menuju tekanan ekonomi.
Namun, operasi militer kembali berlangsung pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Juli. CENTCOM menyebut serangan tersebut sebagai tindakan terbatas dan tepat terhadap pasukan IRGC yang diduga memasang ranjau di Selat Hormuz.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Media pemerintah Yordania melaporkan delapan rudal berhasil dicegat dan dihancurkan.
Trump mengatakan serangan AS merupakan respons terhadap upaya peletakan ranjau di Selat Hormuz serta serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
Kondisi tersebut turut mendorong harga minyak. Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November naik 5,3 persen menjadi USD95,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menembus USD90 per barel, pertama kalinya sejak 11 Juni.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Imbal hasil obligasi AS melonjak
Di luar perkembangan geopolitik, aksi jual obligasi pemerintah AS dan sejumlah pasar obligasi utama dunia semakin kuat pada Selasa. Investor mencermati meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan kondisi fiskal.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023. Sementara itu, imbal hasil obligasi dua tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024.
Pergerakan tersebut turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pasar meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan perubahan suku bunga pada September setelah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole.
Data pasar tenaga kerja AS juga menjadi perhatian investor. Data Job Openings and Labor Turnover Summary (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada Juli mencapai 7,271 juta, di bawah perkiraan 7,330 juta, tetapi meningkat dari angka revisi Juni sebesar 7,182 juta.
Meski lebih rendah dari perkiraan, peningkatan jumlah lowongan dari Juni menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif tangguh. Angka tersebut juga masih mendekati level tertinggi dalam dua tahun, yakni 7,585 juta lowongan pada April.
Menurut CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di sekitar 68 persen setelah data JOLTS dirilis. Sementara peluang The Fed mempertahankan suku bunga berada di hampir 32 persen. Pasar selanjutnya menantikan laporan nonfarm payrolls AS untuk Agustus yang dijadwalkan terbit pada Jumat.