Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Fundamental Ekonomi RI Kokoh, BI Yakin Rupiah Menguat
Eko Nordiansyah • 23 April 2026 09:58
Jakarta: Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat. Kondisi ini didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, serta imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik.
“Kami tegaskan nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 23 April 2026.
Perry menyampaikan, bank sentral terus berupaya untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dengan meningkatkan intensitas intervensi, baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
“Kami terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Cadangan devisa kami USD148,2 miliar, masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata dia.
Penguatan instrumen moneter yang pro-market
Kebijakan stabilisasi turut didukung oleh penguatan struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik.Kemudian, BI juga menjaga pertumbuhan uang primer lebih dari 10 persen sesuai dengan ekspansi moneter untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, termasuk melalui transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.
“Ke depan, kami akan tetap jaga di atas 10 persen (pertumbuhan uang primer), bahkan bisa mencapai 12 persen untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan bagi ekonomi. Ini sejalan dengan stance kebijakan moneter ekspansi likuiditas,” kata dia.
.jpg)
(Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Dok BI)
Lebih lanjut, BI memandang kondisi fundamental ekonomi Indonesia kuat dalam menghadapi dampak dari geopolitik termasuk perang Timur Tengah. Di samping itu, ketahanan eksternal juga dinilai tetap kuat.
“Fundamental ekonomi kita itu seperti apa? Inflasi yang rendah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas lima persen. Demikian juga stabilitas nilai tukar rupiah. Dan tentu pertumbuhan kredit dan faktor-faktor yang lain. Termasuk juga kondisi neraca pembayaran kita dengan defisit transaksi berjalan yang rendah. Jadi secara keseluruhan kondisi fundamental kita baik dan kuat dalam menghadapi kondisi geopolitik ini,” jelas Perry.
Dukung kebijakan pemerintah hadapi ketidakpastian
Ia menambahkan, bank sentral juga mendukung berbagai kebijakan pemerintah dalam merespons ketidakpastian global seiring dengan meningkatnya harga energi global, termasuk kebijakan work from anywhere, penghematan energi, hingga program biofuel termasuk B50.“Langkah-langkah ini sangat tepat dan akan memperkuat stabilitas ekonomi kita dan juga defisit fiskal yang tetap dijaga rendah di bawah tiga persen dari PDB,” kata Perry.
Dalam merespons ketidakpastian global, bank sentral juga memperkuat bauran kebijakan tidak hanya melalui kebijakan moneter, melainkan juga makroprudensial dan sistem pembayaran.
“Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan moneter lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap dampak global,” ujar Perry.
Secara keseluruhan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 tetap berada dalam kisaran 4,9 sampai 5,7 persen. Inflasi juga diyakini tetap terjaga dalam sasaran 2,5 plus minus satu persen, defisit neraca transaksi berjalan dalam kisaran 1,3 sampai 0,5 persen dari PDB, serta pertumbuhan kredit pada kisaran 8-12 persen.