Indonesia-Norwegia meluncurkan layanan dana masyarakat untuk lingkungan periode keempat. Foto: dok Kemenhut.
Indonesia-Norwegia Perkuat Pendanaan Aksi Iklim
Ade Hapsari Lestarini • 16 February 2026 17:24
Jakarta: Indonesia bersama Norwegia resmi meluncurkan Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan (small grant) periode keempat. Program ini merupakan kelanjutan dari small grant periode ketiga yang diluncurkan pada Agustus 2025.
"Bersama Minister Asmund Aukrust, saya meluncurkan Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan yang telah memasuki periode keempat," kata Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni saat menerima kunjungan Menteri Pembangunan Internasional Norwegia, Asmund Aukrust, dikutip dalam keterangan tertulis, Senin, 16 Februari 2026.
Small grant merupakan salah satu skema pendanaan untuk mendukung pencapaian target Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030, yang didukung melalui kerja sama Indonesia-Norwegia dengan mekanisme Result-Based Contribution (pendanaan berbasis hasil).
Dana disalurkan oleh Kementerian Kehutanan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).
"Atas nama Pemerintah Indonesia, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Norwegia atas kerja sama yang sangat baik selama ini melalui mekanisme Result Based Contribution," ujar Menhut.
Menhut Raja Antoni juga mengungkapkan tantangan perubahan iklim dan pemanasan global itu nyata. Waktu yang ada pun sangat terbatas untuk melakukan mitigasi, sehingga kerja sama seperti ini harus terus diperkuat.
Hingga tiga periode pelaksanaan, program ini telah menyalurkan dana sebesar Rp19,31 miliar kepada 561 kelompok masyarakat, dengan total 31.512 penerima manfaat yang tersebar di 36 provinsi.

Penguatan ketahanan iklim
Program Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan dikembangkan sebagai instrumen pendanaan. Hal ini untuk melibatkan masyarakat secara aktif dan inklusif dalam upaya pelestarian lingkungan dan penguatan ketahanan iklim. Penerima manfaat mencakup berbagai kelompok masyarakat sipil, mulai dari generasi muda, kelompok perhutanan sosial, hingga pegiat konservasi dan pelestarian alam.
Menteri Asmund Aukrust menyampaikan apresiasi atas komitmen Indonesia dalam melibatkan masyarakat dalam aksi iklim. Ia juga mengungkapkan perubahan iklim adalah krisis paling global yang dihadapi.
"Tidak ada satu negara pun yang dapat menyelesaikannya sendiri. Karena itu, kemitraan seperti antara Norwegia dan Indonesia menjadi sangat penting," kata dia.
Sejauh ini Norwegia telah berkontribusi sebesar USD216 juta atas capaian Indonesia dalam menurunkan deforestasi. Ini menunjukkan komitmen bersama yang nyata. Menteri Asmund Aukrust mengatakan program small grant fase keempat ini juga adalah bukti dukungan harus sampai kepada masyarakat yang hidup paling dekat dengan hutan.
"Kami sangat bangga dengan kemitraan dan persahabatan yang terjalin dengan Indonesia. Kami datang untuk mendengarkan, belajar, dan menegaskan kita berada dalam perjuangan ini bersama-sama," ujar dia.
Pada periode keempat, pengajuan usulan kegiatan dibuka pada 12-19 Februari 2026 dengan proses pendaftaran yang lebih mudah diakses. Masyarakat dapat mengajukan proposal secara daring melalui laman layanan-dana-masyarakat.bpdlh.id, untuk selanjutnya diproses sesuai mekanisme yang berlaku.
Dalam periode ini, masyarakat dapat memilih salah satu dari tiga tema utama:
- Pertama, FOLU Goes to School, berfokus pada pelibatan generasi muda dalam pelestarian lingkungan.
- Kedua, FOLU Terra, bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan berbasis lingkungan.
- Ketiga, FOLU Biodiversity,nmendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
Melalui tiga tema tersebut, Kementerian Kehutanan membuka seluas-luasnya partisipasi publik untuk berkolaborasi dalam mendukung agenda mitigasi perubahan iklim, sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam pencapaian target FOLU Net Sink 2030.