Cerita Petani yang Berhasil Mengolah Singkong Jadi Produk Bernilai Tinggi

Nurlaela petani singkong yang sukses menghasilkan inovasi pangan. Istimewa.

Cerita Petani yang Berhasil Mengolah Singkong Jadi Produk Bernilai Tinggi

Arga Sumantri • 19 June 2026 16:30

Magelang: Nurlaela mampu membuktikan singkong bukan komoditas bernilai rendah. Binaan program Desa Emas kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek itu berhasil menunjukkan bahan pangan sederhana itu dapat menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi masyarakat desa.

Melalui inovasi produk keripik singkong presto dan nori daun singkong, Nurlaela tidak hanya membangun usaha, tetapi juga menciptakan peluang hidup yang lebih baik bagi perempuan, petani, dan keluarga prasejahtera di sekitarnya. 

Petani singkong itu pun mengucapkan terima kasih pendiri Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Uno, atas program yang diberikan. Ia mengaku sangat terbantu lewat pelatihan yang diberikan untuk meningkatkan kualitas produk singkong miliknya.

"Dapat pelatihan dari 0 sampai pelatihan ekspor, dari perbaikan kemasan, fotografi produknya jadi lebih bagus, desain kemasan dibuatkan yang baru, dan diberikan alat bantu produksi," ungkap Nurlaela dikutip Jumat, 19 Juni 2026.

Selain mendapat pelatihan, program ini disebut memberinya jalan untuk membangun jaringan. Lewat program tersebut, Nurlaela bisa ikut pameran di Jakarta sehingga jangakauan pembelinya semakin luas.

"Saat ini banyak sekali konsumen yang mau beli produk-produk saya dari luar kota, karena mungkin produk saya masih jarang di pasaran," ujar warga Magelang, Jawa Tengah itu.

Berawal dari keprihatinannya melihat hasil panen singkong petani yang sering tidak laku dan hanya dihargai sekitar Rp300 per kilogram, Nurlaela mulai bereksperimen mengolah singkong menjadi produk bernilai tambah. 

Dari dapur rumahnya, ia berhasil mengembangkan keripik singkong presto dan kemudian menciptakan nori berbahan daun singkong yang memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai. 

Namun, dampak terbesar yang dihadirkan Nurlaela bukan hanya pada produk yang dihasilkan, melainkan pada kehidupan masyarakat di sekitarnya. 

Kapasitas produksi yang awalnya hanya sekitar 5 kilogram singkong per hari kini mencapai 1 kuintal per hari. Sementara, produksi nori daun singkong terus meningkat berkat dukungan pelatihan dan pendampingan dari Desa Emas Yayasan Indonesia Setara. 

Bagi Nurlaela, keberhasilan usaha bukan sekadar soal keuntungan. Ia memiliki mimpi yang lebih besar, yakni menghadirkan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desanya.

"Saya ingin menambah karyawan lagi dan semakin mensejahterakan teman-teman di KUB," ungkapnya.  Melihat banyak ibu rumah tangga yang mengeluhkan keterbatasan ekonomi keluarga, ia mengajak mereka membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Rejeki sebagai wadah pengolahan pangan lokal dan pemberdayaan ekonomi perempuan. 

Dampak sosial yang dirasakan masyarakat pun sangat nyata. Para anggota KUB yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp20 ribu-Rp25 ribu per hari kini memiliki kesempatan memperoleh pendapatan lebih baik melalui kegiatan produksi keripik singkong dan nori, dengan upah mencapai Rp50 ribu - Rp60 ribu per hari.

Selain memberdayakan perempuan, Nurlaela berhasil menciptakan dampak positif bagi petani lokal. Kebutuhan bahan baku yang terus meningkat mendorong semakin banyak petani menanam singkong. KUB Sari Rejeki membeli singkong petani dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding harga pasar yang sebelumnya hanya berkisar Rp500 per kilogram. 

Kondisi ini mendorong peningkatan pendapatan petani sekaligus menghidupkan kembali minat masyarakat untuk membudidayakan singkong.  Hingga saat ini, usaha yang dirintis dari skala rumahan tersebut telah berkembang pesat. 

Inovasi Berbasis Potensi Lokal Lahirkan Perubahan

Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno menyebutkan kisah Nurlaela menjadi bukti bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi jalan lahirnya perubahan sosial yang nyata. 

"Dari singkong dan daun singkong yang dulu dianggap biasa, kini tumbuh harapan baru bagi perempuan, petani, dan keluarga desa untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera," ujar Sandiaga Uno.

(Arga Sumantri)