Petani Sumedang Diminta Beralih ke Tanaman Palawija Selama Kemarau

Ilustrasi - Sebuah tanaman jagung yang mulai memasuki fase berbunga di lahan pertanian Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. ANTARA/Ilham Nugraha.

Petani Sumedang Diminta Beralih ke Tanaman Palawija Selama Kemarau

Silvana Febiari • 28 July 2026 16:35

Sumedang: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mendorong petani menyesuaikan pola tanam saat menghadapi potensi El Nino atau musim kemarau panjang. Petani didorong menanam komoditas palawija untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Iwan Gustiawan, mengatakan penyesuaian pola tanam dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah, indeks pertanaman (IP), serta ketersediaan air agar petani tidak mengalami risiko gagal panen.

"Kalau sawah hanya mengandalkan satu kali panen tentu risikonya lebih besar. Petani didorong menyesuaikan pola tanam, kalau memungkinkan bisa dua kali panen atau menanam komoditas lain yang lebih tahan terhadap musim kemarau," kata Iwan, dilansir dari Antara, Selasa, 28 Juli 2026. 
 


Pemerintah daerah melakukan pemetaan kerawanan pangan setiap tahun untuk menentukan wilayah yang sesuai bagi kegiatan pertanian. Pemetaan ini menjadi acuan dalam memilih komoditas, termasuk padi maupun tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.

"Di Jatinunggal contohnya, sudah ada wilayah yang masuk IP satu sehingga kami arahkan ke komoditas lain. Petani tidak perlu memaksakan karena harus sesuai dengan pemetaan," ujarnya.

Saat curah hujan rendah, petani dapat beralih menanam komoditas palawija seperti jagung, ubi jalar, dan ubi kayu. Langkah ini dilakukan agar produksi pangan tetap berjalan sekaligus menjaga pendapatan petani.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Sumedang, produksi jagung pipilan Sumedang pada 2025 tercatat mencapai 79.565 ton. Sementara komoditas ubi kayu juga memiliki produksi mencapai 88.575 ton berdasarkan data pangan daerah.

Ubi jalar menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Sumedang melalui pengembangan Ubi Cilembu. Komoditas tersebut dikembangkan di lahan sekitar 460 hektare dengan produksi mencapai sekitar 7.820 ton per tahun.


Ilustrasi Petani. Foto: MI.


Hasil produksi palawija tersebut dinilai dapat terus didorong agar dapat menjadi komoditas alternatif dalam menjaga produktivitas ekonomi petani. Tujuannya agar tetap bertahan di musim kemarau yang diprediksi berkepanjangan.

Iwan mengatakan diversifikasi tanaman menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah menghadapi perubahan iklim. Petani memiliki alternatif komoditas ketika kondisi lahan tidak mendukung untuk budidaya padi.

"Yang penting produksi pangan tetap berjalan. Kalau kondisi air tidak memungkinkan untuk padi, bisa dialihkan ke komoditas yang lebih sesuai," ungkapnya.

Selain mendorong diversifikasi tanaman, DPKP Sumedang juga memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebagai instrumen menjaga ketersediaan pangan saat terjadi gangguan produksi maupun kondisi darurat.

Saat ini, stok CPPD Kabupaten Sumedang tercatat sekitar 321,1 ton beras. Jumlah tersebut berada di atas kebutuhan minimal cadangan pangan daerah yang mencapai sekitar 220 ton.

CPPD dapat digunakan untuk penanganan bencana alam, kerawanan pangan, maupun kondisi darurat lainnya. Penyalurannya dilakukan berdasarkan usulan dari desa yang kemudian diverifikasi melalui kecamatan dan petugas terkait.

(Silvana Febiari)