Adang Muhidin founder Virageawie Indonesia, dok: Metro TV
Virageawie Indonesia Pamerkan Inovasi Produk Bambu hingga Go Internasional di JJN Season 5
Putri Purnama Sari • 6 July 2026 11:11
Jakarta: Siapa sangka, bambu yang selama ini kerap dianggap sebagai tanaman biasa justru mampu disulap menjadi produk bernilai tinggi hingga diminati pasar internasional.
Berangkat dari keprihatinannya melihat potensi bambu yang belum dimanfaatkan secara maksimal, Adang Muhidin mendirikan Virageawie Indonesia, sebuah usaha kreatif yang mengolah bambu menjadi berbagai produk inovatif.
Dalam Juragan Jaman Now Season 5, Adang memperkenalkan berbagai hasil karyanya, mulai dari gitar, bass, biola, drum, speaker, jam tangan, hingga produk kuliner berbahan rebung dan daun bambu. Produk-produknya bahkan telah dipasarkan ke berbagai negara seperti India, Jepang, Rumania, hingga Inggris.
"Kami ingin menyentil masyarakat. Ini bambu, ini cuma bambu, tapi bisa menjadi produk yang luar biasa dan memiliki nilai ekonomi kalau ada kreativitas dan inovasi," ujar Adang dalam tayangan Juragan Jaman Now Season 5 Metro TV, yang dikutip Senin, 6 Juli 2026.
Tinggalkan Karier di Jerman Demi Membangun Usaha di Indonesia
Adang bercerita bahwa dirinya memiliki latar belakang pendidikan teknik ilmu logam dan sempat melanjutkan studi S2 di Jerman. Setelah lulus, ia bekerja di sebuah perusahaan internasional di Leverkusen.Namun, keinginannya untuk pulang dan berkarya di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan melanjutkan karier di luar negeri.
"Tahun 2005 saya pulang ke Indonesia dan membangun usaha yang bergerak di bidang bambu. Saya membuat gitar bambu, bass bambu, biola bambu, drum bambu," lanjutnya.
Tak hanya mengembangkan produk, Adang juga membentuk grup musik The Bamboo Essential yang sebagian besar anggotanya merupakan anak-anak jalanan. Melalui kelompok tersebut, mereka telah tampil di sejumlah negara di Asia dan Eropa.
Virageawie Indonesia Kembangkan Berbagai Produk Bambu
Seiring berkembangnya usaha, Virageawie Indonesia tidak lagi hanya memproduksi alat musik. Perusahaan ini kini merambah berbagai lini bisnis berbasis bambu.Mulai dari produk kerajinan, speaker, jam tangan, kuliner berbahan rebung dan daun bambu, hingga produk fashion. Selain itu, Virageawie juga menjalankan program edukasi, pelatihan, pertunjukan musik, dan berbagai kegiatan berbasis inovasi bambu.
Menurut Adang, hingga saat ini pihaknya telah menghasilkan sekitar 120 inovasi produk berbahan dasar bambu. Ia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan bisnisnya mencapai sekitar 45 persen, dengan rata-rata keuntungan sekitar 40 persen.
Penjualan Beralih dari Alat Musik ke Produk Kerajinan

Virageawie Indonesia, dok: Metro TV
Saat sesi tanya jawab, mentor Sebastian Togelang menanyakan perkembangan penjualan Virageawie Indonesia saat ini.
Adang menjelaskan bahwa mayoritas penjualannya masih berasal dari segmen B2B, terutama perusahaan-perusahaan BUMN. Namun sejak Januari 2026, perusahaan mulai memperluas pasar ke marketplace untuk menyasar konsumen langsung (B2C).
Sementara itu, mentor Reino Barack menyoroti perubahan produk yang paling banyak diminati pasar. Adang mengungkapkan bahwa sebelum pandemi Covid-19, hampir 90 persen penjualannya berasal dari alat musik bambu. Namun setelah pandemi, tren tersebut berubah.
"Kalau setelah Covid sekitar 80 persen justru berasal dari produk kerajinan, kalau sebelum Covid itu di 90 persen di musik" jelasnya.
Selain penjualan produk, permintaan terhadap pertunjukan musik dan pelatihan edukasi juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Berencana Bangun Studio Musik dan Podcast
Melihat perkembangan tersebut, mentor Irwan Mussry menilai Virageawie Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan model bisnis baru di luar penjualan alat musik.Adang pun mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 dirinya telah menargetkan pembangunan studio musik sekaligus fasilitas podcast. Menurutnya, banyak musisi yang datang untuk berlatih di Virageawie Indonesia sehingga fasilitas tersebut memiliki potensi menjadi sumber pendapatan baru.
Mentor Ungkap Kisah Inspiratif
Salah satu momen yang paling menarik perhatian datang dari mentor Tom Mc Ifle. Ia menceritakan bahwa proses quality control (QC) untuk produk speaker Virageawie Indonesia justru dilakukan oleh seorang penyandang disabilitas bisu tuli.Menurut Tom, orang tersebut mampu menentukan apakah sebuah speaker layak lolos QC hanya melalui getaran yang dirasakan menggunakan tangannya.
"Speaker ini, QC-nya, orang yang bilang ini go atau no-go adalah bisu tuli. Dan hasilnya benar. Itu unik dan sangat menarik," ungkap Tom.
Komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat memang menjadi salah satu nilai yang terus dijaga oleh Adang. Selain mempekerjakan penyandang disabilitas, Virageawie Indonesia juga aktif memberdayakan ibu single parent dan anak-anak jalanan melalui berbagai kegiatan produksi maupun pertunjukan musik.
Baca Juga :
Tahu Sumedang MS Tampil di JJN, Bisnis Turun Temurun yang Raup Omzet Rp1 Miliar per Tahun
Dapat Bantuan Rp25 Juta
Di akhir presentasi, mentor Sebastian Togelang mengaku terkesan dengan semangat Adang Muhidin dalam mengembangkan Virageawie Indonesia. Sebagai bentuk dukungan terhadap rencana pembangunan studio YouTube, Sebastian pun memberikan bantuan sebesar Rp25 juta."Pak Adang, pertama selamat. Kita merasa ini sangat keren dan kita lihat passion-nya. Tapi yang mungkin bisa kami tawarkan ya mungkin sedikit bantuan sebesar Rp25 juta untuk YouTube studionya," ujar Sebastian.