Rupiah Dibuka ke Rp18.115/USD Selasa Pagi, 14 Juli 2026

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Dibuka ke Rp18.115/USD Selasa Pagi, 14 Juli 2026

Eko Nordiansyah • 14 July 2026 09:13

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tertekan saat dolar AS bergerak datar menanti data inflasi di dalam negeri.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 14 Juli 2026, rupiah berada di level Rp18.115 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun enam poin atau setara 0,03 persen dari Rp18.115 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.126 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin sebesar Rp18.064.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah akan fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif namun diperkirakan melemah. Mata uang Garuda diproyeksikan berada di rentang Rp18.100 sampai dengan Rp18.150 per dolar AS. 

Ibrahim menjelaskan, kondisi ini disebabkan oleh ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran di Timur Tengah. Ketegangan tersebut menciptakan kekhawatiran akan dampak terhadap sistem pelayaran logistik energi di Selat Hormuz. 

"Prospek kenaikan harga energi yang berkelanjutan telah menghidupkan kembali kekhawatiran akan guncangan inflasi lainnya, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama," kata dia.

Pada sisi lain, risalah terbaru pertemuan The Fed menunjukkan bahwa beberapa pembuat kebijakan percaya ada ruang untuk kenaikan suku bunga. Hal ini berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada nilai tukar rupiah.

"Risalah dari pertemuan Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu telah menunjukkan beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi bahkan ketika kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mereda," jelas Ibrahim.

(Eko Nordiansyah)