Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie). Foto: Istimewa.
Rerie Sebut Kemampuan Mitigasi Bencana Harus Terus Ditingkatkan
Anggi Tondi Martaon • 21 January 2026 18:50
Jakarta: Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) meminta seluruh pihak meningkatkan kemampuan mitigasi bencana. Sehingga, berbagai potensi bencana alam dapat diantisipasi.
Hal itu disampaikan Rerie saat membuka diskusi daring bertema Mitigasi Dampak Cuaca Ekstrem di Awal Tahun 2026 yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 di Jakarta, Rabu, 21 Januari 2026.
"Saat ini, kita bukan lagi berhadapan dengan dampak perubahan iklim, tetapi sudah merupakan krisis iklim. Banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem harus menjadi antisipasi ke depan," kata Rerie melalui keterangan tertulis, Rabu, 21 Januari 2026.
Diskusi tersebut diisi oleh Plt. Deputi Bidang Pencegahan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryotomo, Direktur Meteorologi Penerbangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Achadi Subarkah Raharjo, dan Dosen Geografi Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Andung Bayu Sekaranom.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menjelaskan, sejumlah ancaman bencana pada tahun-tahun yang lalu sejatinya sudah dapat diprediksi oleh para pakar dan lembaga yang kompeten. Namun, sejumlah data yang diperoleh itu belum menjadi kepedulian masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk mengelola data tersebut menjadi langkah dan rencana pencegahan bencana yang tepat.
Anggota Komisi X DPR itu berpendapat bahwa sejumlah langkah berdasarkan data tersebut, diharapkan mampu memitigasi bencana dengan baik.
Selain itu, Rerie mendorong agar prediksi BMKG yang dirilis secara periodik itu harus menjadi awal untuk mengantisipasi terjadinya bencana dan meminimalisir dampaknya yang merusak. Menurut Rerie, upaya sosialisasi mitigasi bencana di sejumlah wilayah rawan, bantuan tanggap darurat, penyelamatan, sampai pemulihan dari dampak bencana dapat secara konsisten dilakukan, sebagai bagian upaya mewujudkan sistem perlindungan setiap warga negara dari ancaman bencana.
Ancaman bencana tersebut, ujar Pangarso, dihadapi di hampir semua provinsi di Indonesia. Dia pun mengingatkan agar para pemangku kepentingan di tanah air perlu mencermati pola perubahan iklim pada 10 tahun mendatang, agar mampu mengambil langkah antisipasi.
Dalam upaya membangun kepedulian terhadap ancaman bencana, BNPB aktif mengajak partisipasi masyarakat untuk mengenali risiko-risiko bencana. Melalui program pembentukan Desa Tangguh Bencana, BNPB mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam pencegahan dan penanggulangan bencana.
Saat ini, sudah dibentuk 6.150 Desa Tangguh Bencana di 20 provinsi di Indonesia.
Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG, Achadi Subarkah Raharjo, mengungkapkan bahwa bencana hidrometeorologi itu dipicu oleh cuaca ekstrem. Menurut Achadi, bencana hidrometeorologi di tanah air dalam 16 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan meningkat.
Achadi berpendapat, sejatinya potensi bencana di tanah air memiliki pola. Sehingga seharusnya bisa dilakukan langkah-langkah antisipasi.

Ilustrasi bencana alam. Foto: Antara.
Sejumlah faktor pemicu cuaca ekstrem di Indonesia yaitu monsun dan fenomena La Nina yang terjadi di Nusantara.
Dosen Geografi Lingkungan Universitas Gadjah Mada Andung Bayu Sekaranom berpendapat, cuaca ekstrem merupakan bagian dari proses meteorologi yang sulit diantisipasi. Oleh karena itu, proses mitigasinya dilakukan melalui proses hidrologi, bagaimana manusia mampu mengendalikan aliran air.
Menurut Andung, perubahan iklim tidak hanya menyebabkan siklon yang lebih besar, tetapi juga hujan yang semakin lebat. Sehingga, perlu langkah yang tepat dalam mengantisipasinya.
Langkah anticipatory action, jelas Andung, merupakan pendekatan pengelolaan bencana dengan melakukan tindakan dini sebelum bencana terjadi atau dampak yang memburuk. Tentu saja, jelas dia, antisipasi bencana itu dilakukan sebelum bencana terjadi dan pendanaannya harus disiapkan sebelum bencana terjadi.
Sementara itu, wartawan senior Saur Hutabarat mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan BNPB dan BMKG di tengah keterbatasan anggaran. Dia juga memuji program Desa Tangguh Bencana karena dinilai langkah yang baik.
Sementara itu, upaya pemanfaatan air hujan untuk menopang kehidupan juga harus dipikirkan sebagai bagian dari antisipasi meningkatnya curah hujan.
Saur berpendapat, gaya kepemimpinan yang tegas di daerah sangat penting dalam upaya memperbaiki tata ruang dan kerusakan lingkungan dalam menghadapi dampak cuaca ekstrem.