Ilustrasi emas batangan. Foto: Medcom.id
Meski Tergelincir, Harga Emas Dunia Masih di Atas USD5.000/Ons
Husen Miftahudin • 27 January 2026 08:53
Chicago: Harga emas dunia tetap optimistis pada perdagangan awal Selasa di Asia. Penguatan ini terjadi setelah mencapai rekor tertinggi karena kekhawatiran atas kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Antisipasi terhadap pertemuan Federal Reserve AS minggu ini juga membuat pasar secara umum cenderung menghindari risiko. Meskipun bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Rabu besok.
Mengutip Investing.com, Selasa, 27 Januari 2026, harga emas spot stabil di USD5.040,74 per ons. Sementara harga emas berjangka untuk pengiriman April turun satu persen menjadi USD5.072,86 per ons. Harga emas spot mencapai rekor tertinggi USD5.111,11 per ons pada perdagangan Senin kemarin.
Harga logam mulia lainnya juga menunjukkan tren positif pada perdagangan Selasa. Harga perak spot naik 3,2 persen menjadi USD107,1735 per ons, sementara harga platinum spot melonjak 1,4 persen menjadi USD2.621,21 per ons.
| Baca juga: Tembus USD5.000/Ons, Harga Emas Dunia Cetak Rekor Tertinggi Baru |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Emas menguat di tengah risiko geopolitik dan ekonomi
Permintaan terhadap logam mulia sebagai aset aman melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Ini terjadi setelah Trump mengancam akan memberlakukan tarif perdagangan terhadap beberapa sekutu AS, terutama embargo perdagangan efektif terhadap Kanada.
Trump menolak potensi perdagangan antara Kanada dan Tiongkok, dan mengancam akan mengenakan tarif 100 persen pada Ottawa. Trump juga akan menaikkan tarif perdagangan terhadap barang-barang Korea Selatan menjadi 25 persen, dengan alasan Seoul menunda pemberlakuan kesepakatan perdagangan baru-baru ini.
Meskipun Trump meredam tuntutannya terhadap Greenland dan ancaman tarifnya terhadap Eropa, pasar tetap waspada terhadap kemungkinan langkah-langkah serupa lainnya dari Trump.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran dan Timur Tengah, seiring kedatangan kapal-kapal AS di wilayah tersebut, juga membuat pasar tetap waspada.