Pengamatan hilal ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Perkiraan Tanggal Lebaran 2026 Versi NU, Muhammadiyah, BRIN, hingga BMKG
Arga Sumantri • 16 March 2026 11:08
Jakarta: Bulan Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi sudah mendekati akhir. Biasanya, umat Islam mulai menantikan kepastian kapan Hari Raya Idulfitri akan dirayakan.
Sejumlah lembaga dan organisasi masyarakat Islam Indonesia telah menyampaikan perkiraan tanggal lebaran. Bahkan, ormas Islam Muhammadiyah sudah mengumumkan kalau Lebaran 2026 akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Prediksi ormas-ormas Islam diumumkan berdasarkan metode dan kriteria yang mereka gunakan. Tak jarang, perbedaan metode ini membuat kemungkinan tanggal Hari Raya Idulfitri berbeda-beda.
Di Indonesia, penetapan awal Syawal dilakukan melalui mekanisme sidang isbat yang digelar pemerintah. Penentuan ini menggabungkan dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Prediksi Lebaran 2026 versi Nahdlatul Ulama
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hilal penentuan Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H. Data tersebut disampaikan dalam Informasi Hilal Awal Syawal 1447 H.Data Falakiyah mengenai hilal 29 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 M menunjukkan hilal sudah di atas ufuk, tetapi belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.
Tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar’ie 2 dedajat 53 menit dan elongasi hilal haqiqy 6 derajat 09 menit, serta lama hilal 14 menit 44 detik. Sementara ketinggian hilal terkecil terjadi di Merauke, Provinsi Papua Selatan dengan tinggi hilal mar’ie 0 derajat 49 menit dan elongasi hilal haqiqy 4 derajat 36 menit, serta lama hilal 6 menit 36 detik.
Adapun di titik Jakarta dengan markaz Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT), tinggi hilal adalah 1 derajat 43 menit 54 detik dengan letak matahari terbenam pada 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat dengan elongasi 5 derajat 44 menit 49 detik dan lama hilal 10 menit 51 detik.
Ijtimak (konjungsi) terjadi pada Kamis Kliwon 19 Maret 2026 M pukul 08:25:58 WIB. Sementara itu, letak matahari terbenam berada di 00 derajat 33 menit 01 detik selatan titik barat dengan letak hilal beradai pada 03 derajat 33 menit 03 detik selatan titik barat dan kedudukan hilal pada 03 derajat 00 menit 02 detik selatan Matahari dalam keadaan miring ke utara.
Penghitungan atas data ini dilakukan dengan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.

Pemantauan hilal. Foto: Metrotvnews.com/Rhobi Sani
Penetapan Lebaran 1447 Hijriah versi Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhamamdiyah telah menetapkan awal Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini diumumkan melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.Maklumat tersebut menjelaskan bahwa Ijtimak menjelang Syawal 1447 Hijriah terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC.
Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, telah ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat. Wilayah pertama yang memenuhi parameter tersebut antara lain berada pada koordinat 64° 59? 57,47? LU dan 42° 03? 3,47? BT, dengan tinggi bulan sekitar 6° 29? 20? serta elongasi 8°.
Berdasarkan hasil hisab tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Prediksi Idulfitri 1447 Hijriah versi BRIN
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, juga memperkirakan Idul Fitri 1447 H kemungkinan besar jatuh pada 21 Maret 2026.Prediksi tersebut didasarkan pada analisis posisi hilal secara astronomi. Menurut Thomas, pada waktu Magrib tanggal 19 Maret 2026 di kawasan Asia Tenggara, posisi hilal diprediksi belum memenuhi kriteria baru Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Sejak 2021, kriteria MABIMS menetapkan awal bulan hijriah jika memenuhi dua syarat utama, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Dengan kondisi tersebut, hilal diperkirakan belum dapat terlihat pada 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara. Makanya, BRIN memprediksi 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Namun, keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Prediksi BMKG soal 1 Syawal 1447 Hijriah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data perhitungan hilal 1 Syawal 1447 H dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 19 Maret 2026 M (Penentuan Awal Bulan Syawal 1447 H). Dalam informasi itu, dijelaskan bahwa konjungsi akan terjadi pada hari Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 01.23.23 UT atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 08.23.23 WIB atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 09.23.23 WITA atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 10.23.23 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 358,45 derajat.Di wilayah Indonesia pada 19 Maret 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.48.13 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh, Aceh.
Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026 di seluruh wilayah Indonesia. Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 0.91 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 3.13 derajat di Sabang, Aceh.
Sementara itu, besaran elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 4.54 derajat di Waris, Papua sampai dengan 6.1 derajat di Banda Aceh, Aceh.
Data BMKG juga menunjukkan umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 7.41 jam di Waris, Papua sampai dengan 10.44 jam di Banda Aceh, Aceh. Adapun lama Hilal di atas ufuk saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berkisar antara 5.6 menit di Merauke, Papua sampai dengan 15.66 menit di Sabang, Aceh.
Data-data di atas menunjukkan potensi besar Ramadan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari, mengingat belum terpenuhinya kriteria imkanur rukyah. Bila merujuk pemantauan BMKG, besar kemungkinan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.
Menanti sidang isbat
Kementerian Agama (Kemenag) menjadwalkan sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H pada Kamis, 19 Maret 2026 mulai pukul 16.00 WIB. Biasanya sidang isbat digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta.Dalam sidang tersebut, pemerintah akan membahas hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pemantauan di Indonesia sebelum mengumumkan keputusan resmi mengenai tanggal Idulfitri.