COO Danantara Indonesia dan Kepala BP BUMN Dony Oskaria. Foto: dok Antara.
Perampingan BUMN Berpotensi Hemat Rp50 Triliun, Danantara Jamin Tak Ada PHK Massal
Husen Miftahudin • 11 June 2026 22:55
Jakarta: Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memastikan program perampingan badan usaha milik negara (BUMN) tidak akan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Seluruh pekerja akan tetap dipertahankan dan dialihkan ke perusahaan hasil konsolidasi.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan pihaknya tengah menjalankan proses penataan BUMN untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan negara. Melalui langkah tersebut, jumlah entitas BUMN yang saat ini mencapai 1.077 perusahaan ditargetkan berkurang menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan.
Dony menegaskan transformasi BUMN dilakukan tanpa mengorbankan tenaga kerja. Menurut dia, arahan tersebut juga sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
"Pastinya Bapak Presiden tidak ingin ada PHK," tegas Dony dalam siniar Bukan Kaleng-Kaleng, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan proses streamlining atau perampingan BUMN ditargetkan selesai pada 2026. Langkah tersebut ditempuh untuk mengatasi banyaknya perusahaan yang tidak efisien dan mencatatkan kerugian.
Menurut Dony, sekitar 52 persen dari total 1.077 perusahaan BUMN saat ini berada dalam kondisi merugi. Akumulasi kerugian perusahaan-perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp20 triliun.
Danantara kemudian melakukan simulasi terkait biaya mempertahankan seluruh tenaga kerja dibandingkan manfaat efisiensi yang dihasilkan dari konsolidasi perusahaan.
"Kita hitung, kalau dari perusahaan-perusahaan yang kita streamlining ini, berapa sih biaya tenaga kerjanya setahun? Ternyata cuma Rp2 (triliun)-Rp3 triliun," ujar Dony.
Berdasarkan perhitungan tersebut, Danantara menilai biaya mempertahankan seluruh karyawan jauh lebih kecil dibandingkan potensi penghematan yang diperoleh dari proses restrukturisasi.
"Jadi saya berpikir, kalau gitu saya ambil saja semua karyawannya, saya masih hemat Rp47 triliun," lanjut dia.
Dony menegaskan seluruh pegawai akan tetap menjadi bagian dari perusahaan hasil konsolidasi. Menurut dia, pekerja tidak semestinya menanggung dampak dari restrukturisasi korporasi yang dilakukan perusahaan.
"Seluruh karyawan tidak akan ada yang kita kurangi. Mereka akan menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan hasil konsolidasi. Karena tadi pemikiran kita, kita tidak mau juga menzalimi karyawan. Karena itu kan bukan salah mereka," kata dia.
| Baca juga: Tegaskan Beda dengan 1MDB, Danantara: Risiko Investasi dan BUMN Dipisah |

(Gedung BP BUMN. Foto: dok Humas BP BUMN)
Potensi efisiensi capai Rp50 Triliun
Selain menjaga keberlangsungan tenaga kerja, Danantara menilai program perampingan BUMN dapat menghasilkan penghematan langsung hingga Rp50 triliun per tahun.
Dony mengungkapkan selama ini terdapat praktik transaksi berlapis antara perusahaan induk, anak usaha, hingga entitas di bawahnya yang menimbulkan inefisiensi dalam operasional.
"Selama ini kita membiasakan layering transaction antara induk ke anak-anak, ke cucu-cucu, ke cicit, yang menyebabkan inefisiensi. Kurang lebih inefisiensinya itu Rp30 triliun," ujar Dony.
Salah satu langkah yang telah dilakukan ialah penggabungan usaha di lingkungan Pertamina, yakni antara perusahaan yang bergerak pada sektor niaga, pengolahan, dan pelayaran energi. Menurut Dony, integrasi tersebut dilakukan karena ketiganya berada dalam rantai bisnis yang saling berkaitan.
Dari proses penggabungan itu, Danantara mengklaim berhasil memangkas berbagai biaya transaksi internal dan potensi kerugian yang sebelumnya membebani perusahaan.
"Contoh pertama, kita merger sekarang, kita sudah menghemat kurang lebih sekitar USD600 (juta)-USD700 juta dari hasil merger ini," ungkap dia.
Praktik serupa juga ditemukan pada sejumlah proyek di lingkungan Telkom Group. Dalam pelaksanaan proyek jaringan serat optik, pekerjaan kerap melewati beberapa lapisan perusahaan sebelum dieksekusi sehingga memunculkan biaya tambahan yang dinilai tidak perlu.
Dony menambahkan, apabila seluruh proses streamlining berhasil diselesaikan dan jumlah perusahaan dapat dipangkas menjadi sekitar 254 entitas, Danantara berpotensi memperoleh penghematan langsung sekitar Rp50 triliun tanpa harus menunggu peningkatan profitabilitas dari perusahaan hasil konsolidasi.
"Jadi kita punya Rp50 triliun kalau proses ini selesai kita laksanakan. Kita punya immediate saving tanpa kita harus melakukan improvement terhadap kualitas pengelolaan dan profitability daripada hasil penggabungan. Di depan mata kita ada Rp50 triliun," jelas dia.