Ilustrasi. Foto: Freepik.
Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat dan Inflasi Meroket Imbas Konflik Timur Tengah
Richard Alkhalik • 29 May 2026 13:45
Washington: Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) kuartal pertama tahun ini tercatat lebih lambat dari proyeksi awal. Di sisi lain, indikator utama inflasi justru melonjak hingga mencapai level tertingginya dalam tiga tahun terakhir yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Melansir Channel News Asia (CNA), Jumat, 29 Mei 2026, kondisi tersebut menjadi sinyal peringatan bagi Amerika menjelang pemilihan umum paruh waktu.
Tekanan keuangan kian terasa seiring melambungnya harga bahan bakar yang menekan anggaran rumah tangga. Sementara peningkatan pendapatan dari pengembalian pajak mulai memudar.
Departemen Perdagangan AS melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) negara berekonomi terbesar dunia itu hanya meningkat dengan laju tahunan sebesar 1,6 persen pada tiga bulan pertama 2026.
Angka tersebut turun dari estimasi sebelumnya di level 2,0 persen. Penurunan tersebut mencerminkan revisi ke bawah terhadap postur investasi dan pengeluaran konsumen secara nasional.
Ekonom dari Oxford Economics Michael Pearce menyoroti pergeseran pola konsumsi yang membebani laju PDB yang melambat.
“Data baru menunjukkan pengeluaran untuk jasa, khususnya jasa medis, melambat dan persediaan bisnis turun lebih dari yang diperkirakan sebelumnya,” kata Pearce, dikutip dari CNA, Jumat, 29 Mei 2026.
Revisi penurunan terhadap pengeluaran konsumen pada kuartal pertama, bersamaan dengan perlambatan pada bulan April menurutnya menunjukkan konsumen sedang mengalami tekanan.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Lonjakan beban energi dan inflasi
Pearce mengatakan tekanan daya beli sejalan dengan laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi ukuran inflasi pilihan the Fed yang naik ke tingkat tahunan tertinggi sejak 2023.Departemen perdagangan mencatat indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi meningkat 3,8 persen dibandingkan tahun lalu, naik dari posisi 3,5 persen pada Maret. Kendati pengeluaran konsumsi pribadi AS meningkat sebesar 0,5 persen pada April, pendapatan pribadi yang dapat dibelanjakan justru tergerus turun sebesar 0,1 persen.
“Anda bisa melihat bagaimana warga Amerika saat ini sedang tertekan secara finansial,” kata Kepala Ekonom di Navy Federal Credit Union, Heather Long,
Akar dari inflasi ini tidak lepas dari krisis geopolitik global karena biaya energi melonjak tajam setelah serangan AS dan Israel yang menargetkan Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menyeret Timur Tengah ke dalam pusaran konflik dan memicu pembalasan Teheran yang memblokir Selat Hormuz.
Jalur perairan utama ini digunakan bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, serta sangat penting bagi perdagangan pupuk global.
Tersumbatnya pasokan akibat blokade tersebut memicu lonjakan biaya global, yang secara langsung membuat harga bahan bakar di SPBU Amerika meroket.
Data mencatat kenaikan harga bahan bakar telah memaksa konsumen AS merogoh kocek lebih dalam dengan menghabiskan tambahan USD28,8 miliar untuk bensin dan produk terkait pada April lalu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pearce memperkirakan harga energi yang lebih tinggi kemungkinan akan membuat pertumbuhan PDB di posisi moderat tahun ini.