Ilustrasi Pexels
Usia Murid Baru SD Boleh di Bawah 7 Tahun, Pakar Usul Kelas 1 Transisi
Muhamad Marup • 28 May 2026 23:17
Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperbolehkan siswa baru jenjang sekolah dasar berusia di bawah 7 tahun dengan catatan sudah memiliki kesiapan menerima pembelajaran. Menanggapi hal tersebut, Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Arina Restian, mendorong adanya desain mendesain Kelas 1 Transisi.
Jika jumlah siswa di bawah 7 tahun lebih banyak, ia menilai manajemen sekolah tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Menurutnya, kelas 1 transisi tersebut didesain dengan tata ruang bersudut bermain.
Baca Juga :
"Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru," ujar Arina, mengutip laman resmi UMM, Kamis, 28 Mei 2026.
Guru butuh adaptasi
Arina menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun.Jika dipaksakan tanpa adaptasi, menurutnya, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak. Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid berusia di bawahnya.
"Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya," tegas Arina.
Tips pengajaran

Ilustrasi Pexels
Arina juga membagikan tips bagi para guru SD kelas 1 untuk mengajar murid di bawah usia 7 tahun. Menurutnya, periode minggu-minggu awal sangat penting agar siswa tidak tertekan.
Ia menerangkan, rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’. Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi.
"Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD," ucapnya.