THR Sudah Cair, Masyarakat Diimbau 'Jangan Asal Klik'

VIDA tegakkan kampanye 'Jangan Asal Klik'. Foto: Metrotvnews.com/Husen.

THR Sudah Cair, Masyarakat Diimbau 'Jangan Asal Klik'

Husen Miftahudin • 13 March 2026 07:03

Jakarta: Hampir semua pekerja kini telah menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Kondisi ini membawa sukacita sekaligus mendorong kewaspadaan masyarakat terhadap penipuan digital yang marak saat momentum nasional seperti Lebaran saat ini.
 
Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Teguh Afriyadi menegaskan, tren penipuan saat ini sangat dipengaruhi momentum dan kerap dipicu kebiasaan pengguna yang kurang melakukan verifikasi.
 
"Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum, biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya," ujar Teguh dalam peluncuran Public Service Announcement (PSA) VIDA bertajuk 'Jangan Asal Klik', dikutip Jumat, 13 Maret 2026.
 
Komdigi juga mencatat penipuan kerap terjadi melalui aplikasi pesan dan media sosial. Berdasarkan data CekRekening.id pada periode 2017-31 Oktober 2025, total laporan aduan terkait nomor rekening bank dan nomor e-wallet yang terindikasi digunakan dalam penipuan paling banyak muncul melalui aplikasi pesan, dengan akumulasi 396.691 laporan. Sementara itu, kasus yang terjadi di media sosial berada di urutan berikutnya dengan total 281.050 laporan.
 
Temuan ini menunjukkan pelaku kerap memanfaatkan kanal yang paling dekat dengan keseharian masyarakat, sehingga pesan, tautan, maupun dokumen yang terlihat wajar dan mendesak lebih mudah dipercaya.
 
Kondisi tersebut kerap terjadi karena masih adanya kecenderungan sebagian masyarakat untuk langsung merespons tanpa verifikasi saat menerima pesan, tautan, atau dokumen. Karena itu, kampanye "Jangan Asal Klik" mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan mengecek apakah link maupun dokumen yang dibagikan terindikasi mencurigakan sebelum mengambil tindakan.
 

Baca juga: Korban Koperasi BLN Mengadu ke DPR, dari Pensiunan Guru hingga Lansia
 

Ajak masyarakat bangun kebiasaan digital yang lebih aman

 
Chief Operating Officer VIDA Victor Indajang menambahkan penipuan digital kini tidak lagi dilakukan secara individual, melainkan semakin terorganisir dan berkembang layaknya sebuah industri. Karena itu, menurut dia, garda utama perlindungan tetap dimulai dari kesadaran diri seperti jangan mudah tergiur, jangan terburu-buru saat menerima pesan atau dokumen, dan biasakan stop, cerna, verifikasi, baru bertindak.
 
Kampanye "Jangan Asal Klik" selaras dengan peringatan dari Komdigi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) terkait peningkatan modus penipuan dokumen digital, impersonasi, serta social engineering berbasis AI.
 
Data OJK juga mengungkap kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan lebih dari 400 ribu laporan selama November 2024 hingga akhir 2025, dengan modus mulai dari phishing, investasi bodong, hingga penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.
 
Dalam konteks Ramadan, kampanye ini menekankan keamanan digital juga merupakan bagian dari menjaga amanah di bulan suci. Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan dan melindungi keluarga dari risiko finansial akibat scam.
 
Karena itu, VIDA mengajak masyarakat membangun kebiasaan digital yang lebih aman dengan:
 
Jangan klik link dari pesan tidak dikenal, apalagi yang menciptakan rasa panik. Jangan bagikan OTP, PIN, atau kode verifikasi dalam bentuk apa pun. Waspadai file APK atau dokumen yang meminta instalasi aplikasi tambahan. Verifikasi ulang setiap permintaan transfer dana, meski mengatasnamakan orang terdekat.


(Ilustrasi penipuan/online scam. Foto: Polresjogja.com)
 

Dorong kebiasaan verifikasi

 
Sejalan dengan itu, Victor juga menekankan kebiasaan verifikasi adalah langkah sederhana yang dampaknya besar, terutama pada periode pencairan THR. "Di periode pencairan THR, satu tautan palsu yang terlihat meyakinkan bisa memicu account takeover atau pencurian data dalam hitungan detik. Siapa pun bisa terjerat," ucap dia mengingatkan.
 
"Karena itu, 'Jangan Asal Klik' kami kemas dalam format video edukatif yang ringan dan mudah dipahami, menargetkan lintas generasi, terutama generasi muda yang aktif di media sosial dan aplikasi pesan singkat. Kami percaya kesadaran publik adalah fondasi keamanan dan kepercayaan di ekosistem digital. Edukasi perlu dimulai dari diri sendiri dengan memahami tanda-tanda penipuan, menyadari risikonya, dan berpikir dua hingga tiga kali sebelum mengeklik tautan," tegas Victor menambahkan.
 
Di sisi teknologi, VIDA juga menerapkan pendekatan multi-layer defense, seiring password tidak lagi memadai sebagai satu-satunya lapisan keamanan. Dalam konteks ini, VIDA menghadirkan solusi autentikasi tambahan seperti FaceToken dan PhoneToken sebagai lapisan verifikasi berbasis biometrik dan perangkat untuk membantu menekan risiko penyalahgunaan akun dan memperkuat keamanan akses digital.
 
Diketahui, VIDA merupakan perusahaan di bidang identitas digital dan pencegahan penipuan. Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) yang didirikan pada 2018 ini menyediakan layanan identitas digital yang mengintegrasikan sertifikat elektronik, tanda tangan digital, verifikasi identitas, dan otentikasi transaksi, termasuk Infrastruktur Kunci Publik dan verifikasi biometrik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)