Ilustrasi Pasukan Basij. (Fars)
Pasukan Basij Iran Dilaporkan Diserang Drone Israel di Teheran
Riza Aslam Khaeron • 12 March 2026 14:37
Teheran: Otoritas Iran mengonfirmasi serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan sejumlah pos pemeriksaan di ibu kota Tehran pada Rabu malam, 11 Maret 2026. Insiden itu dilaporkan menewaskan beberapa anggota pasukan keamanan, termasuk personel sukarelawan Basij.
Melansir kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), drone Israel melancarkan serangan di beberapa lingkungan di Tehran. Ini merupakan pertama kalinya sejak pecahnya perang Timur Tengah pada 28 Februari lalu, serangan drone dilaporkan terjadi di ibu kota Iran tersebut.
"Beberapa anggota pasukan keamanan dan pasukan Basij (sukarelawan) yang ditempatkan di pos pemeriksaan tewas," demikian laporan Fars seperti dikutip pada Kamis, 12 Maret 2026.
Seorang jurnalis AFP di bagian utara kota mendengar suara keras drone yang terbang di atas area tersebut. Beberapa ledakan dilaporkan terjadi, termasuk satu ledakan yang lebih kuat dari yang lain. Belum jelas apakah ledakan itu terkait dengan sistem pertahanan udara atau serangan langsung.
Serangan itu menargetkan sejumlah pos pemeriksaan strategis. Menurut Fars, pos pemeriksaan yang menjadi sasaran berada di Distrik 14 dekat Jalan Raya Mahallati, Distrik 15 seberang pompa bensin Hashemabad, Distrik 16 di Jalan Fadaiyan-e Islam, dan Distrik 1 di ujung Jalan Raya Artesh.
| Baca Juga: Iran Ancam Tindak Tegas Protes Anti-Pemerintah di Tengah Perang |
Seorang pejabat anonim yang dikutip Fars menuduh operasi itu dilakukan secara bersama oleh badan intelijen Israel, Mossad, dan kelompok monarkis. Tuduhan itu tidak disertai bukti, namun dituduh bertujuan untuk menyusupkan agen dan melakukan sabotase di dalam negeri.
Pasukan Basij adalah pasukan sukarelawan dan salah satu cabang dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Pasukan ini telah lama dituduh terlibat dalam sejumlah aksi penindakan dan kekerasan terhadap pengunjuk rasa yang telah terjadi beberapa kali sejak tahun 2009.
Serangan drone ini terjadi memasuki hari ke-12 perang Iran yang dimulai oleh serangan Israel dan AS pada 28 Februari 2026. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sebelumnya menyebut Israel akan menciptakan kondisi agar rakyat Iran “dapat memutuskan takdir” mereka sendiri.
"Para ayatollah dan antek-antek mereka sedang melarikan diri — tetapi para pengecut itu tidak punya tempat untuk bersembunyi," kata Netanyahu.
"Dalam beberapa hari mendatang, kami akan menciptakan kondisi bagi Anda untuk menggenggam takdir Anda."
Beberapa hari kemudian, mengutip laporan Al Jazeera pada Kamis, 12 Maret 2026, Kepala Kepolisian Iran Ahmad-Reza Radan dalam program televisi pemerintah pada Selasa malam memperingatkan bahwa pihaknya akan bertindak tegas terhadap setiap aksi protes internal yang dianggap anti-pemerintah.
"Kami tidak akan melihat mereka sebagai pengunjuk rasa atau apa pun; kami akan menganggap mereka sebagai musuh dan memperlakukan mereka sebagaimana kami memperlakukan musuh," tegas Radan.
Peringatan tersebut terjadi dua bulan setelah protes nasional yang melanda Iran pada Januari 2026. Pemerintah Iran menyatakan 3.117 orang tewas dalam aksi protes tersebut.
Sedangkan lembaga HAM berbasis AS HRANA menyatakan lebih dari 7.000 orang tewas dalam protes tersebut dan respons keras pemerintah, dimana pasukan Basij terlibat dalam penindakan tersebut. Sedangkan lebih dari 11.000 laporan lainnya masih ditinjau.