Ayatollah Ali Khamenei dan Warisan Kekuasaan yang Membentuk Iran Modern

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikonfirmasi meninggal dunia pada Minggu, 1 Maret 2026. (EPA)

Ayatollah Ali Khamenei dan Warisan Kekuasaan yang Membentuk Iran Modern

Willy Haryono • 1 March 2026 10:51

Jakarta: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia usai terjadinya serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026, mengakhiri lebih dari tiga dekade kepemimpinannya sebagai figur paling berkuasa di Republik Islam Iran.

Kematiannya menandai titik balik besar bagi Iran, mengingat perannya yang menentukan arah kebijakan nuklir, militer, dan hubungan luar negeri negara tersebut sejak 1989.

Di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebelum kematiannya, sosok Khamenei tetap menjadi sentral sebagai pemegang otoritas tertinggi Iran. Ia menjabat sejak 1989 sebagai pemimpin dengan masa jabatan terlama di kawasan tersebut.

Keluarga Religius

Lahir pada 1939 di kota Mashhad, wilayah timur laut Iran, Khamenei tumbuh di keluarga religius. Dikutip dari BBC, ia mulai terjun ke dunia aktivisme politik pada 1962 dengan bergabung dalam gerakan oposisi Ayatollah Ruhollah Khomeini yang menentang Shah Iran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam 1979, perannya semakin krusial. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan dan menjadi salah satu tokoh yang membantu mengorganisir Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang kemudian menjadi tulang punggung militer Iran.

Titik balik terjadi pada Juni 1989, ketika Ayatollah Khomeini wafat. Majelis Ahli memilih Ali Khamenei sebagai penggantinya.

Mengutip Al Jazeera, penunjukan tersebut sempat memicu perdebatan karena Khamenei belum mencapai pangkat tertinggi ulama Syiah. Namun, konstitusi Iran kemudian diubah untuk memungkinkan ia memegang jabatan tersebut.

Selama lebih dari 30 tahun berkuasa, Khamenei dikenal sebagai pemimpin dengan kendali kuat atas politik dalam negeri dan militer. Ia menindak tegas tantangan terhadap sistem pemerintahan, termasuk gelombang protes.

Arsitek Geopolitik Iran

Di tingkat internasional, menurut Channel News Asia, Khamenei mengambil sikap keras terhadap Amerika Serikat, yang ia sebut sebagai ancaman bagi Iran.

Ia juga secara terbuka menentang keberadaan Israel, seperti dilaporkan Anadolu Agency, dan menjadikan pengembangan teknologi nuklir sebagai simbol kedaulatan nasional, meskipun memicu sanksi Barat.

Hingga 2026, tujuh presiden Iran menjabat di bawah kepemimpinannya. Secara pribadi, Khamenei yang memiliki enam anak dikenal menjalani kehidupan sederhana dan tertutup.

Seiring bertambahnya usia, spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan terus menjadi perhatian global. Namun hingga akhir hayatnya, Khamenei tetap menjadi arsitek utama kebijakan geopolitik Iran dan salah satu tokoh paling berpengaruh di Timur Tengah. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Dewan Keamanan Iran Bertekad 'Bangkit Melawan Penindas' usai Kematian Khamenei

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)