Para terdakwa kasus kekerasan di daycare Little Aresha Yogyakarta
Kesaksian Pilu Orang Tua Korban Kekerasan Daycare Little Aresha Yogya
Ahmad Mustaqim • 26 August 2026 23:55
Yogyakarta: Sejumlah orang tua korban kekerasan anak di Daycare Little Aresha memberikan kesaksian dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, Rabu, 26 Agustus 2026. Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Sunaryanto tersebut menghadirkan 10 orang tua korban sebagai saksi.
Salah satu orang tua membeberkan kisah perihnya saat menitipkan sang anak berinisial B, yang memiliki kondisi berkebutuhan khusus Autism Spectrum Disorder (ASD). Kondisi B sejatinya telah dijelaskan secara gamblang kepada pihak pengelola daycare, termasuk kepada Ketua Yayasan Little Aresha berinisial DK.
Saksi berharap pengasuh di fasilitas tersebut dapat memberikan penanganan khusus. Apalagi, DK sebelumnya mengklaim bahwa Little Aresha memiliki layanan pengasuhan untuk anak berkebutuhan khusus.
"Setiap bulan itu pasti ada luka lebam, luka robek, dan benjolan," ungkap saksi di ruang sidang.
Upaya saksi untuk meminta penjelasan kepada pengelola daycare terkait kondisi sang anak selalu bertepuk sebelah tangan tanpa jawaban yang memuaskan.
Perubahan Perilaku dan Bukti Kekerasan
Tak hanya menderita luka fisik, B juga mengalami perubahan perilaku drastis menjadi lebih agresif, seperti sering memukul dan mencubit."Setelah saya amati, dia suka main ikat-ikatan tangan dan kaki. Nanti mainan dinosaurusnya juga diikat," tutur saksi tersebut.

Adegan awal rekonstruksi kekerasan di Daycare Little Aresha. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Kecurigaan orang tua akhirnya terjawab ketika Polresta Yogyakarta menggerebek daycare tersebut pada Jumat, 24 April 2026 lalu. Fakta kekerasan itu semakin kuat lewat hasil pemeriksaan dokter spesialis (visum et repertum).
Saksi juga sempat menggali informasi dari teman korban di daycare tersebut. Diketahui bahwa B pernah dikurung sendirian di dalam kamar gelap pada siang hari, bahkan tangannya diikat oleh pengasuh saat ia hanya ingin bermain.
"Temannya (juga bilang) pernah dikurung bareng anak saya, diikat. Terus pernah B jatuh dari tangga guling-guling, menangis kencang sekali," tutupnya dengan nada getir.