Harga Minyak Tertekan, Pasar Pantau Arus Energi di Selat Hormuz

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Tertekan, Pasar Pantau Arus Energi di Selat Hormuz

Eko Nordiansyah • 27 August 2026 08:35

Houston: Harga minyak dunia kembali melemah pada Rabu, 26 Agustus 2026, seiring munculnya sinyal kemajuan diplomasi di Timur Tengah yang berpotensi membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, risiko gangguan pasokan energi global masih menjadi perhatian pasar karena ketegangan Rusia-Ukraina kembali meningkat.

Dilansir dari Investing, Kamis, 27 Agustus 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 0,9 persen menjadi USD86,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 0,6 persen menjadi USD81,83 per barel.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan berkurangnya tekanan terhadap pasokan minyak global apabila lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz kembali normal.

Selat Hormuz jadi perhatian pasar

Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi prospek pasokan energi global. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia diketahui melewati jalur strategis tersebut.

Namun, aktivitas pelayaran melalui Hormuz menurun drastis akibat risiko keamanan. Data awal Kpler yang dikutip CNBC menunjukkan hanya lima kapal pengangkut komoditas melintasi selat tersebut pada Selasa, jauh di bawah rata-rata pergerakan 10 hari sebanyak 15 kapal.

Kondisi tersebut membuat pasar tetap menghadapi risiko gangguan pasokan meskipun harga minyak mulai turun.

Potensi normalisasi arus pelayaran kemudian memberikan tekanan terhadap harga minyak. Iran dan Oman dilaporkan telah menyepakati rute sementara yang memungkinkan kapal komersial melintasi Selat Hormuz.

Namun, Iran disebut belum akan membuka kembali selat tersebut secara penuh hingga Amerika Serikat memenuhi sejumlah komitmen dalam kesepakatan kerangka kerja yang dicapai sebelumnya.

Di sisi lain, laporan mengenai kemungkinan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran juga ikut mendorong ekspektasi pasar terhadap pemulihan arus perdagangan dan energi.

Investing menyebut laporan tersebut belum dapat segera diverifikasi secara independen.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Risiko pasokan belum hilang

Meskipun perkembangan diplomatik menekan harga minyak, pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai keberlanjutan arus energi dari kawasan Timur Tengah.

Analis menilai kesepakatan antara Iran dan Oman belum serta-merta berarti arus minyak melalui Selat Hormuz akan kembali normal. Pencabutan blokade dan pelonggaran sanksi terhadap Iran juga dinilai menjadi faktor penting sebelum aktivitas perdagangan energi dapat pulih sepenuhnya.

Perusahaan pelayaran juga masih menghadapi risiko keamanan sehingga sebagian memilih menghindari jalur tersebut. Kondisi ini membuat pasokan minyak global tetap berpotensi mengalami gangguan apabila konflik kembali meningkat.

Dengan demikian, arah harga minyak dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan keamanan dan diplomasi di kawasan.

Rusia-Ukraina tambah risiko geopolitik

Tekanan terhadap harga minyak juga tertahan oleh meningkatnya ketegangan Rusia dan Ukraina.

Bloomberg melaporkan Rusia mempertimbangkan peningkatan serangan terhadap Ukraina setelah menilai perundingan perdamaian mengalami kebuntuan. Perkembangan tersebut kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap potensi gangguan terhadap infrastruktur energi dan distribusi komoditas.

Ukraina sebelumnya juga meningkatkan serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia yang dilaporkan berdampak terhadap kapasitas penyulingan dan sejumlah fasilitas logistik.

Perkembangan tersebut membuat pasar energi menghadapi dua sumber risiko geopolitik sekaligus, yakni ketidakpastian arus energi di Timur Tengah dan potensi gangguan produksi maupun distribusi energi akibat konflik Rusia-Ukraina.

Pasar masih menghitung risiko energi

Penurunan harga minyak saat ini belum dapat sepenuhnya diartikan sebagai berakhirnya tekanan terhadap pasar energi. Pergerakan harga masih sangat bergantung pada apakah jalur perdagangan di Selat Hormuz dapat kembali beroperasi secara lebih normal dan apakah ketegangan geopolitik dapat diredakan.

Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap perubahan terhadap keamanan dan kelancaran jalur tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan energi serta harga minyak global.

Dengan kondisi tersebut, pasar minyak masih akan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, serta eskalasi Rusia-Ukraina sebagai faktor utama yang menentukan arah harga energi dalam beberapa waktu ke depan.

(Eko Nordiansyah)