Sungai Purba atau Sundaland, Dok: BRIN
BRIN Ungkap 'Jalur Tol' Purba Rute Manusia Afrika Menuju Indonesia
Putri Purnama Sari • 4 June 2026 16:33
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan menarik mengenai jalur migrasi manusia modern awal dari Afrika menuju Asia Tenggara, termasuk wilayah yang kini menjadi Indonesia. Temuan ini menambah pemahaman baru tentang bagaimana manusia modern menyebar dari Afrika ke berbagai belahan dunia ribuan tahun lalu.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jaringan sungai purba di kawasan Paparan Sunda atau Sundaland kemungkinan menjadi "jalur tol" alami. Jalur tersebut digunakan manusia prasejarah untuk berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Sungai Purba Paparan Sunda Jadi Koridor Migrasi Manusia
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, menjelaskan bahwa pada masa Pleistosen, Paparan Sunda memiliki sistem sungai besar yang kini telah tenggelam akibat kenaikan muka laut. Berdasarkan penelitian geomorfologi dan paleogeografi, sungai-sungai tersebut diduga menjadi koridor ekologis penting yang mendukung mobilitas manusia purba.Menurut BRIN, manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya bergerak melalui jalur pantai. Mereka juga memanfaatkan sungai-sungai purba sebagai sarana perpindahan menuju wilayah pedalaman maupun kawasan Wallacea yang menjadi penghubung menuju Nusantara bagian timur.
"Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan," kata Vida, yang dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis, 4 Juni 2026.
Migrasi dari Afrika Tidak Terjadi Sekaligus
BRIN menjelaskan bahwa migrasi manusia modern dari Afrika menuju Asia Tenggara tidak berlangsung dalam satu gelombang besar. Perpindahan tersebut terjadi secara bertahap melalui berbagai jalur dan periode waktu yang panjang. Salah satu teori yang selama ini banyak digunakan adalah coastal migration theory atau teori migrasi pesisir.Teori tersebut menyebutkan bahwa manusia purba cenderung memilih jalur pantai karena lebih mudah dilalui dan menyediakan sumber makanan yang melimpah. Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem sungai purba kemungkinan memiliki peran yang sama pentingnya dalam mendukung perjalanan manusia menuju wilayah Asia Tenggara.
Paparan Sunda Pernah Menjadi Daratan Luas
Pada masa glasial atau zaman es, permukaan laut berada jauh lebih rendah dibandingkan saat ini. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah yang sekarang menjadi Laut Jawa, Selat Malaka, dan perairan sekitarnya masih berupa daratan yang menghubungkan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan daratan Asia.Daratan luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda itu memungkinkan manusia, hewan, dan tumbuhan berpindah dengan lebih mudah. Di wilayah tersebut juga mengalir sungai-sungai besar yang diduga menjadi jalur utama mobilitas manusia purba sebelum akhirnya tenggelam akibat kenaikan muka laut setelah berakhirnya zaman es.
Kalimantan Diduga Menjadi Titik Persinggahan Penting Migrasi Manusia Purba
BRIN tidak hanya menemukan keberadaan jaringan sungai purba di Paparan Sunda. Mereka juga menemukan indikasi bahwa wilayah Kalimantan memiliki peran penting dalam perjalanan manusia modern dari Afrika menuju kawasan Nusantara dan Australia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Foto BRIN
Kawasan timur Paparan Sunda, khususnya Kalimantan, diperkirakan menjadi jalur transit strategis bagi manusia prasejarah sekitar 45.000 hingga 30.000 tahun lalu sebelum melanjutkan perjalanan ke Wallacea, yang mencakup Indonesia bagian tengah, serta Sahul yang meliputi Australia dan Papua saat ini. Dugaan tersebut didukung oleh berbagai temuan arkeologis berupa alat batu, sisa fauna, serta bukti hunian gua yang ditemukan di sejumlah lokasi di Kalimantan.Peneliti BRIN, Bambang Sugiyanto, melalui penelitiannya di kawasan Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, menemukan sejumlah bukti yang menguatkan peran wilayah tersebut sebagai salah satu jalur migrasi manusia purba. Berbagai artefak berhasil ditemukan di beberapa gua, mulai dari alat batu, gerabah, gambar cadas, hingga rangka manusia yang diperkirakan berusia sekitar 6.000 tahun.
Salah satu temuan yang menarik adalah keberadaan gambar cadas berwarna hitam yang menjadi ciri khas situs prasejarah di Kalimantan Selatan. Karakteristik ini berbeda dengan temuan seni cadas di wilayah lain di Pulau Kalimantan.
Sejumlah gua di Pegunungan Meratus tidak hanya berfungsi sebagai jalur perpindahan manusia. Gua dimanfaatkan sebagai tempat tinggal, lokasi penguburan, hingga pusat aktivitas ritual masyarakat prasejarah pada masanya.
Mengungkap Sejarah Awal Penghuni Nusantara
Penelitian mengenai sungai purba Paparan Sunda dinilai penting karena dapat membantu para ilmuwan memahami pola migrasi manusia yang menjadi cikal bakal penghuni Nusantara saat ini. Temuan ini juga memperkuat dugaan bahwa proses penyebaran manusia modern ke Indonesia melibatkan kombinasi jalur pesisir dan jalur sungai yang kini telah hilang dari permukaan bumi.Para peneliti berharap dapat merekonstruksi lebih detail perjalanan panjang manusia modern dari Afrika hingga akhirnya menghuni wilayah Indonesia ribuan tahun lalu. Hal tersebut dimungkinkan dengan semakin berkembangnya penelitian arkeologi, geologi, dan paleogeografi.