Serangan udara Israel di Desa Ansar, Lebanon selatan, menewaskan tujuh orang dan melukai tiga lainnya. (Anadolu Agency)
Serangan Israel ke Lebanon Selatan Tewaskan 7 Orang, 3 Terluka
Willy Haryono • 15 August 2026 14:58
Beirut: Serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan tujuh orang dan melukai tiga lainnya pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Serangan tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan sejak gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah mulai berlaku pada 20 Juni lalu.
Kantor berita nasional Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan serangan terjadi pada Sabtu dini hari dan menghantam sebuah rumah di pinggiran Desa Ansar, dekat Zrarieh.
Rumah tersebut hancur akibat serangan. Tim penyelamat dan paramedis masih melakukan pencarian di antara reruntuhan untuk menemukan kemungkinan korban lainnya.
Serangan tersebut terjadi ketika gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah masih berada dalam kondisi rapuh. Meski intensitas pertempuran telah menurun sejak Juni, militer Israel masih melakukan serangan hampir setiap hari di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
Selain Ansar, serangan udara Israel pada Sabtu juga menyasar Bukit Ali Taher, sebuah kawasan strategis yang menghadap sebagian wilayah Kota Nabatieh dan sejumlah jalan utama menuju kota tersebut.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Pada 26 Juni, Israel dan pemerintah Lebanon mengumumkan sebuah “kerangka kesepakatan” yang mencakup rencana penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan dengan imbalan pelucutan senjata Hezbollah.Kesepakatan tersebut juga membuka jalan bagi langkah-langkah menuju kemungkinan perjanjian damai antara Israel dan Lebanon. Kedua negara secara teknis masih berada dalam kondisi perang hampir delapan dekade setelah berdirinya Israel.
Namun, Hizbullah tidak menjadi bagian dari kesepakatan tersebut dan menolak melakukan perundingan langsung dengan Israel.
Kelompok yang didukung Iran itu juga menolak tuntutan untuk menyerahkan senjatanya sebelum Israel menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan.
Di sisi lain, Israel menegaskan bahwa penarikan pasukannya bergantung pada pelucutan senjata Hezbollah. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pekan ini bahwa pasukan Israel tidak akan meninggalkan Lebanon selatan sebelum tujuan tersebut tercapai.
Kondisi tersebut menciptakan kebuntuan. Hizbullah menolak dilucuti selama Israel masih berada di wilayah Lebanon, sedangkan Israel mengaitkan penarikannya dengan pelucutan kelompok tersebut.
Lebanon dan Israel telah menggelar tujuh putaran perundingan. Putaran terbaru berlangsung di Roma pada awal Agustus.
Konflik Kembali Memanas
Awal bulan ini, dua tentara Israel tewas dalam sebuah ledakan di Lebanon selatan. Kematian tersebut menjadi korban jiwa pertama dari pihak militer Israel sejak gencatan senjata berlaku.Hezbollah tidak memberikan komentar mengenai ledakan tersebut.
Konflik Israel-Hezbollah kembali meningkat pada 2 Maret, setelah Hizbullah menembakkan roket melintasi perbatasan, dua hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Sejak itu, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.000 orang, termasuk ratusan warga sipil, menurut data yang dikutip dalam laporan terbaru. Di pihak Israel, sekitar 40 tentara dan tiga warga sipil, termasuk seorang kontraktor militer, dilaporkan tewas.
Serangan terbaru di Ansar menjadi ujian baru bagi kesepakatan gencatan senjata yang sejak awal dinilai rapuh. Dengan negosiasi mengenai penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hizbullah masih menemui jalan buntu, kekerasan di Lebanon selatan berisiko kembali meningkat.
Baca juga: Israel Langgar Gencatan Senjata di Lebanon saat Perundingan Roma Berlangsung