Napas Bajaj di Antara Langkah Porter Stasiun Gambir

Mukhtar, 57, sopir bajaj di kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Napas Bajaj di Antara Langkah Porter Stasiun Gambir

Metro TV • 25 September 2026 02:36

Jakarta: Di tengah gempuran transportasi daring, segelintir orang masih setia menggantungkan hidup di balik kemudi bajaj. Salah satunya adalah Mukhtar, 57, pria yang saban hari mangkal di sekitar kawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.

Bagi Mukhtar yang sudah mengaspal sejak 1995, dinamika transportasi di Ibu Kota sangat terasa. Jika dahulu bajaj menjadi primadona pengunjung stasiun, kini napas usahanya sangat bergantung pada para porter yang kerap menggunakan jasanya.

“Kalau sekarang ini banyaknya apa ya, yang naik itu porter-porter itu yang dari kereta itu sih, kuli-kuli porter itu,” kata Mukhtar kepada Metrotvnews.com, Kamis, 24 September 2026.

Perubahan penumpang ini berdampak langsung pada kemampuan Mukhtar memenuhi kewajiban setoran harian. Jika sebelumnya ia bisa menuntaskan kewajiban itu dengan mudah setiap sore, kini kondisinya tak lagi sama.

Pendapatan yang tak menentu memaksanya bernegosiasi dengan pemilik armada agar sistem pembayaran setoran diubah menjadi mingguan.

“Setoran per hari sih beda-beda, tapi sekitar Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Tapi itu pun enggak setiap hari bisa bayar, makanya ganti seminggu," ungkap Mukhtar. 

Di tengah sepinya penumpang umum yang beralih ke aplikasi digital, keberadaan ratusan porter yang hilir mudik di stasiun justru menjadi juru selamat baginya.


Porter di Stasiun Gambir. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina. 

Bagi pria asal Pemalang, Jawa Tengah, para porter bukan sekadar pelanggan biasa. Melainkan tumpuan asa agar rofesi yang dilakoninya selama tiga dekade tidak padam di tengah persaingan transportasi modern.

“Kalau (porter) itu langganan ini, tidak diragukan lagi, sudah biasa. (Kalau sepi) paling menunggu di sini sambil menghemat BBM tuturnya,” kata Mukhtar.

(Gabriella Thesa Widiari)