Deretan buku dan majalah di Toko Buku Sinar Kasih. Foto: Metrotvnews/Afifah Alfina.
Kisah Dedy Si Penjaga Asa Literasi dari Sudut Stasiun Gambir
Metro TV • 25 September 2026 01:54
Jakarta: Di tengah gempuran media sosial yang menawarkan kemudahan akses terhadap informasi dan hiburan, seorang pria bernama Dedy justru menjaga api leterasi dari media cetak. Lewat kios mungil di sudut Stasiun Gambir bernama “Sinar Kasih”, dia masih setia menjajakan majalah dan buku.
Usaha ini dia mulai sejak 1981, setelah mengikuti jejak kakak iparnya yang lebih dulu menjual buku di area Stasiun Gambir. Kecintaannya pada buku dan membaca menjadi bahan bakarnya untuk tetap mempertahankan toko kecilnya.
"Jadi kami memang hobi membaca buku dan pegiat literasi juga. Makanya kami tetap mempertahankan jualan buku walaupun jumlah pembaca menurun dan orang sekarang beralih ke smartphone,” kata Dedy pada Metrotvnews.com, Kamis, 24 September 2026.
Baca Juga :
Menjaga Nyala Literasi di Sudut Stasiun Gambir
“Padahal dulu media cetak yang menjadi pemasukan utama kami. Makanya untuk bisa menutup biaya sewa toko kami menjual kopi dan lainnya sekarang ini," ujar Dedy.
Kepedulian Dedy pada dunia literasi tak berhenti di balik toko bukunya. Ia bahkan pernah menyumbangkan puluhan majalah anak untuk area bermain di Stasiun Gambir agar anak-anak bisa membaca tanpa dipungut biaya.
"Saya pernah menyumbang majalah Bobo puluhan biji ke taman bermain mini stasiun kereta api gambir. Agar sebelum anak anak berangkat naik kereta api, mereka bisa baca baca buku secara gratis," ucap Dedy.

Pemilik Toko Buku Sinar Kasih, Dedy. Foto: Metrotvnews/Afifah Alfina.
Asa Dedy untuk menyalakan lentera literasi seolah tak pernah padam. Di tengah gempuran zaman, ia menyimpan mimpi sederhana untuk membangun rumah baca bagi masyarakat luas.
“Dan kedepannya jika ada duit nanti saya pengen membuat rumah baca bagi anak anak dan masyarakat,” kata Dedy.
(Afifah Alfina)