Harga Minyak Turun Seiring Kemajuan Pembicaraan AS-Iran

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Turun Seiring Kemajuan Pembicaraan AS-Iran

Eko Nordiansyah • 23 September 2026 08:15

Houston: Harga minyak turun untuk sesi keenam berturut-turut pada Rabu, 23 September 2026. Minyak tertekan oleh tanda-tanda kemajuan diplomatik antara AS dan Iran serta membaiknya prospek aliran minyak mentah Timur Tengah seiring upaya Arab Saudi memulihkan jalur ekspor utama.

Dikutip dari Investing, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman November turun 0,8 persen menjadi USD98,45 per barel. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,1 persen menjadi USD89,55 per barel.

Kedua kontrak tersebut turun lebih dari satu persen pada sesi sebelumnya. Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup di bawah level USD100 pada hari Selasa untuk pertama kalinya sejak 8 September.


(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Trump sebut kemajuan perundingan dengan Iran

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa para pejabat AS telah mengadakan pertemuan tiga jam yang sangat baik dan produktif dengan perwakilan Iran di New York, yang memunculkan harapan bahwa negosiasi pada akhirnya dapat membantu mengakhiri konflik dan meredakan gangguan di sekitar Selat Hormuz.

Pertemuan tersebut merupakan kontak langsung pertama yang diketahui antara pejabat AS dan Iran sejak bulan Juni. Trump mengatakan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, turut serta dalam pertemuan itu.

Laporan Reuters menunjukkan Iran telah mengisyaratkan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz jika Washington melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun Teheran belum mengonfirmasi adanya kesepakatan pasti untuk melakukan hal tersebut.

Jalur perairan ini tetap menjadi fokus utama pasar minyak karena menyalurkan sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global sebelum konflik dimulai. Pergerakan kapal tanker baru-baru ini menunjukkan adanya peningkatan aliran, meskipun risiko pelayaran masih tergolong tinggi.

Sementara itu, laporan menyebutkan bahwa Arab Saudi telah memulai kembali operasi pada jalur pipa Timur-Barat miliknya, yang dapat mengalirkan minyak mentah ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah dan menghindari Selat Hormuz.

Jalur pipa tersebut sempat ditutup setelah serangan pesawat nirawak (drone) awal bulan ini.

Jalur pipa ini memiliki kapasitas sekitar tujuh juta barel per hari, namun laporan menambahkan bahwa perbaikan pada stasiun pompa yang rusak berarti pemulihan kapasitas penuh mungkin memakan waktu enam hingga delapan minggu.

(Eko Nordiansyah)