Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Mentah Brent Turun 1,8% ke USD104,67
Husen Miftahudin • 26 September 2026 08:30
Houston: Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat waktu setempat setelah menguat selama dua hari berturut-turut. Pelemahan terjadi setelah laporan mengenai penjajakan kesepakatan bertahap antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pelaku pasar minyak merespons laporan tersebut meski belum terdapat terobosan diplomatik resmi antara Washington dan Teheran sepanjang pekan ini. Perkembangan hubungan kedua negara menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi jalur pelayaran dan pasokan minyak global.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 26 September 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman November turun 1,8 persen menjadi USD104,67 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November turun 2,2 persen menjadi USD92,51 per barel.
Secara mingguan, kinerja kedua patokan harga minyak tersebut bergerak berbeda. Brent diperkirakan mencatat kenaikan tipis, sedangkan WTI turun sekitar 4,1 persen.
Pergerakan harga minyak sepanjang pekan berlangsung fluktuatif. Brent sempat mencatat penurunan selama lima sesi perdagangan berturut-turut sebelum berbalik menguat dalam dua sesi berikutnya.
Harapan kemajuan hubungan diplomatik AS-Iran
Perkembangan hubungan AS dan Iran menjadi salah satu perhatian utama pasar minyak sepanjang pekan. Harapan terhadap kemajuan diplomatik sempat meningkat setelah delegasi kedua negara berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun, ekspektasi tersebut mereda setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan keras dalam forum PBB.
Trump mengatakan dirinya menghadapi pilihan antara melakukan tindakan keras terhadap Iran atau mencapai kesepakatan. Ia juga menyebut kesepakatan dapat dicapai setelah pemilihan paruh waktu AS pada November. Di sisi lain, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah. Ia tetap membuka ruang untuk dialog, diplomasi, dan negosiasi.
Perkembangan tersebut kemudian diikuti konfirmasi Trump pada Selasa mengenai berlangsungnya pembicaraan tidak langsung antara perwakilan AS dan Iran di sela-sela agenda PBB.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu, 23 September 2026, meredam ekspektasi terhadap pembicaraan tersebut. Ia mengatakan diskusi itu belum dapat disebut sebagai sebuah terobosan besar dan lebih merupakan kelanjutan dari pembicaraan sebelumnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei pada Kamis, 24 September 2026, mengatakan sejumlah pesan telah dipertukarkan dengan AS melalui mediasi Qatar. Menurutnya, Teheran juga telah menyampaikan sejumlah syarat untuk kembali bernegosiasi.
Syarat tersebut mencakup penghentian tindakan agresif AS, termasuk blokade angkatan laut dan sanksi ekonomi, penghentian perang di berbagai lini, pembebasan aset Iran yang dibekukan atau dibatasi, serta jaminan jalur pelayaran yang aman melalui kesepakatan kedua negara pesisir.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Selat Hormuz jadi perhatian pasar
Laporan mengenai pembicaraan AS-Iran kembali menjadi perhatian setelah Reuters pada Kamis, 24 September 2026, melaporkan adanya pembahasan mengenai jalur bertahap untuk mengakhiri perang.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, skema itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi oleh Washington. Perkembangan terkait Selat Hormuz menjadi perhatian pasar minyak karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi pengiriman minyak dunia.
Selain hubungan AS-Iran, pelaku pasar juga mencermati meningkatnya konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Arab Saudi pada Kamis, 24 September 2026, mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan Houthi menuju sejumlah wilayah, termasuk Taif dan Yanbu di kawasan Laut Merah.
Serangan tersebut kembali meningkatkan perhatian terhadap keamanan infrastruktur minyak dan jalur ekspor Arab Saudi. Sebelumnya, kerusakan pada Pipa Timur-Barat Arab Saudi mengganggu pengiriman minyak mentah menuju Yanbu.
Arab Saudi telah kembali mengoperasikan pipa tersebut pada awal pekan. Namun, aktivitas pemuatan kapal tanker dari Yanbu belum sepenuhnya pulih.