Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Turun Tipis, Brent Dijual USD105/Barel
Husen Miftahudin • 25 September 2026 08:30
Houston: Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Asia, Jumat, setelah laporan mengenai pembahasan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz meredakan sebagian kekhawatiran terkait pasokan.
Namun, risiko geopolitik masih membayangi pasar setelah serangan rudal kelompok Houthi terhadap Arab Saudi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur dan jalur ekspor minyak negara tersebut.
Mengutip Investing.com, Jumat, 25 September 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman November turun 0,6 persen menjadi USD105,94 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun 0,8 persen menjadi USD93,86 per barel.
Kedua harga acuan tersebut sebelumnya sempat melonjak hingga lima persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Namun, harga kemudian berbalik turun setelah muncul laporan mengenai pembicaraan AS dan Iran.
Serangan Houthi tekan pasokan
Arab Saudi pada Kamis mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Rudal tersebut diarahkan ke sejumlah wilayah, termasuk Taif dan Yanbu di kawasan Laut Merah.
Serangan tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur minyak dan jalur ekspor Arab Saudi. Kekhawatiran meningkat setelah kerusakan sebelumnya pada pipa minyak Timur-Barat mengganggu pengiriman minyak mentah menuju Yanbu.
Yanbu merupakan salah satu pusat ekspor minyak utama di kawasan Laut Merah dan terhubung dengan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi. Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman minyak mentah menuju Yanbu. Namun, aktivitas pemuatan tanker dari pelabuhan tersebut belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, negosiator AS dan Iran di New York dilaporkan sedang menjajaki jalur bertahap untuk mengakhiri konflik kedua negara. Salah satu opsi yang dibahas mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi Washington terhadap Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam konflik kedua negara. Kedua pihak disebut masih mempertahankan pengaruh atas jalur tersebut sambil menunggu konsesi dari pihak lawan.
Reuters melaporkan hanya 17 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan terakhir. Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata sebelum perang yang mencapai sekitar 125 kapal per hari. Meski demikian, pengiriman minyak masih berlangsung melalui selat tersebut, meski dengan volume yang lebih rendah.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Persediaan minyak AS bertambah
Dari AS, data persediaan minyak memberikan tekanan berlawanan terhadap kekhawatiran pasokan akibat faktor geopolitik. Stok minyak mentah komersial AS meningkat tiga juta barel pada pekan yang berakhir 18 September.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 641 ribu barel. Sementara itu, persediaan bensin turun 1,7 juta barel dan stok distilat berkurang 400 ribu barel.
Pasar diesel juga menjadi perhatian setelah harga bahan bakar tersebut di AS mencapai rekor tertinggi. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan sejumlah langkah untuk meningkatkan pasokan diesel domestik.
Menteri Energi AS Chris Wright disebut telah menghubungi sejumlah eksekutif perusahaan penyulingan besar untuk mengukur dukungan terhadap kemungkinan pembatasan sukarela ekspor diesel. Pembahasan tersebut berlangsung setelah muncul laporan mengenai kemungkinan larangan ekspor diesel selama 90 hari. Gedung Putih telah membantah rencana tersebut.