Muktamar NU Mesti Menegaskan Muruah

Nahdlatul Ulama. Foto: Istimewa

Muktamar NU Mesti Menegaskan Muruah

Rahmatul Fajri • 20 May 2026 22:33

Jakarta: Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), mesti menegaskan muruah. Yakni, NU sebagai lembaga yang lahir dari jasa dan pemikiran para ulama.

"Muktamar NU ke-35 karena itu bukan sekadar forum memilih Ketua Umum dan Rais Aam," kata nahdliyin sekaligus pengusaha rokok HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, dikutip dari Media Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026.

Menurut Khalilur, dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU mulai memanas. Hal itu, seiring munculnya sejumlah kandidat di bursa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

"Ia adalah ujian besar bagi kemandirian organisasi ini," kata Khalilur.
 


Dia melihat, NU merupakan organisasi yang lahir dari pemikiran ulama. Sehingga, Muktamar ke-35 harus dapat mewarisi muruah itu. 

"Yang sedang dipertaruhkan adalah marwah NU sebagai kekuatan moral bangsa," kata Khalilur.

Khalilur mengingatkan kembali esensi sejarah berdirinya Republik Indonesia. Menurutnya, legitimasi moral kiai di kampung-kampung lewat doa dan fatwa menjadi fondasi kokoh saat struktur birokrasi dan militer Indonesia belum terbentuk kuat di awal kemerdekaan.


Nahdlatul Ulama. Foto: Istimewa

Hubungan harmonis antara Presiden Soekarno dan Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari, disebut menjadi contoh nyata bagaimana umara (pemimpin negara) menaruh hormat yang tinggi kepada ulama.

"Di situ ada adab, ada kesadaran sejarah. Ada penghormatan bahwa para ulama bukan subordinasi kekuasaan, melainkan sumber moral bangsa," kata Khalilur.

Peran historis ini juga dibuktikan lewat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menggerakkan Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mempertahankan kemerdekaan. Khalilur mengatakan setelah Indonesia berdaulat, para kiai memilih kembali ke pesantren untuk membina umat tanpa larut dalam perebutan kekuasaan negara.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)