Global Sumud Flotilla mencoba menembus blokade Israel menuju Jalur Gaza. (Anadolu Agency)
Aktivis Global Sumud Flotilla Asal Afsel Mengaku Dipukuli Israel saat Ditahan
Willy Haryono • 24 May 2026 11:45
Cape Town: Sejumlah aktivis asal Afrika Selatan yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuduh pasukan Israel telah melakukan pemukulan dan penyiksaan selama mereka ditahan.
Dikutip dari AsiaOne, para aktivis tiba kembali di Afrika Selatan pada Sabtu, 23 Mei 2026, dan disambut keluarga serta pendukung pro-Palestina.
Global Sumud Flotilla yang terdiri dari 50 kapal dicegat Israel di perairan internasional sekitar 250 mil dari pantai Israel saat berupaya menembus blokade Gaza dan mengirim bantuan kemanusiaan.
Para aktivis mengatakan mereka ditahan selama beberapa hari di penjara K’tziot, Israel selatan. Mereka menuduh sejumlah tahanan mengalami kekerasan fisik hingga sengatan listrik saat diinterogasi terkait keterlibatan dalam misi tersebut.
Pemerintah Israel membantah tuduhan penyiksaan itu dan menyebutnya “salah dan sama sekali tidak berdasar.”
Aktivis Klaim Alami Kekerasan
Aktivis Afrika Selatan Faizel Moosa mengatakan para tahanan sempat tidak diberi akses air dan makanan yang layak. “Kami ditolak akses ke toilet selama berjam-jam. Ketika kami mulai memprotes, kami ditembaki peluru karet,” ujar Moosa.Moosa yang pernah menjadi aktivis anti-apartheid mengatakan perlakuan di penjara Israel lebih buruk dibanding pengalaman penahanannya pada era apartheid Afrika Selatan.
“Apa yang kami alami jauh lebih buruk. Ini menunjukkan apa yang dialami warga Palestina setiap hari,” katanya.
Aktivis asal Irlandia Margaret Connolly juga menggambarkan kondisi penahanan yang menurutnya tidak manusiawi. Ia mengaku sejumlah tahanan dipukul menggunakan senjata dan dipaksa bertahan dalam suhu dingin tanpa pakaian maupun selimut.
“Mereka ingin kami menderita,” ujar Connolly.
Menurutnya, pasukan Israel juga menyita perlengkapan medis sehingga ia tidak dapat memberikan perawatan kepada tahanan lain.
Kritik terhadap Pemerintah
Tiga aktivis asal Chile yang juga ditahan Israel turut tiba di Santiago pada Sabtu dan mengkritik pemerintah Chile karena dinilai lambat membantu pembebasan mereka.Salah satu aktivis, Carolina Eltit, mengaku dipukuli dan ditahan dalam kondisi yang buruk.
Sementara itu, aktivis Afrika Selatan Qutb Hendricks mendesak pemerintah Pretoria meningkatkan tekanan terhadap Israel, termasuk menghentikan ekspor batu bara dan pasokan lain ke negara tersebut.
Insiden penyitaan Global Sumud Flotilla terus memicu kecaman internasional dan meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel terkait blokade Gaza.
Baca juga: Pembebasan Relawan GSF Hasil Nyata Tekanan Diplomatik dan Solidaritas Global