Cegah Korban Kekerasan Seksual Jadi Pelaku, Psikolog: Pentingnya Pendampingan

Ilustrasi Pexels

Cegah Korban Kekerasan Seksual Jadi Pelaku, Psikolog: Pentingnya Pendampingan

Muhamad Marup • 7 May 2026 21:37

Jakarta: Kasus kekerasan seksual marak terjadi akhir-akhir ini. Pendampingan terhadap korban sangat penting untuk mencegah dampak meluas, termasuk potensi korban menjadi pelaku kekerasan seksual.

"Tidak dapat dipungkiri ada sebagian individu yang menjadi pelaku setelah mengalami," ujar Psikolog klinis anak dari Kancil, Dhisty Azlia Firnady, kepada Metrotvnews.com, Kamis, 7 Mei 2026.

Ia menjelaskan, dampak dari trauma merupakan hal yang kompleks. Pada korban yang mendapatkan paparan kekerasan seksual berulang, pengabaian/ketiadaan penanganan, serta dukungan yang kurang, lebih rentan mengulangi pola dan menormalisasi perlakuan yang terjadi pada dirinya.

"Emosi negatif yang tidak terproses atau trauma yang diabaikan juga berisiko mempengaruhi empati, perkembangan regulasi emosi, dan kemampuan berpikir logis," jelasnya.

Meski demikian, Dhisty menegaskan, tidak semua korban menjadi pelaku. banyak dari korban menjadi penyintas yang justru bangkit mencegah orang lain agar tidak mengalami hal serupa, hingga membantu korban lainnya. 

"Sebab itu, penting untuk memastikan korban korban kekerasan seksual mendapatkan pendampingan psikologis berkala dan berada di lingkungan yang suportif sehingga rantai kekerasan dapat diputus," tambahnya.

Edukasi cegah perilaku menyimpang

Dhisty menekankan, pencegahan kekerasan seksual paling utama melalui edukasi sejak dini. Menurutnya, semakin muda usia anak diberikan edukasi, semakin kecil risiko anak terlibat kekerasan seksual dan perilaku seksual menyimpang. 

"Edukasi seksual harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Edukasi bisa diberikan melalui aktivitas sehari-hari seperti baca buku, main, dan diskusi," katanya.

Pengasuh Ponpes di Pati Pakai Modus Pijat 'Transfer Ilmu' untuk Cabuli Santriwati

Ilustrasi Pexels

Dhisty mengungkapkan, edukasi pencegahan kekerasan seksual bisa membahas seputar:
  • Mengajarkan consent atau izin
  • Pengenalan anggota tubuh dan area privat
  • Mengajarkan konsep “tubuhku milikku”
  • Mengenalkan sentuhan aman dan tidak aman
  • Siapa saja dan batasan orang lain menyentuh tubuh
  • Latihan berkata tidak
  • Ajari melapor jika ada orang lain yang melewati batasan, termasuk kepada siapa saja melapor
  • Mengajari mekanisme pertahanan diri dan kabur dari kekerasan seksual
  • Pertemanan sehat dan batasan berteman, khususnya untuk remaja
"Penting membangun komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi, sehingga anak berani cerita," terangnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)