Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Anadolu Agency)
Zelensky Tolak Pemilu di Tengah Perang, Sebut Bisa Memecah Ukraina
Muhammad Reyhansyah • 24 August 2026 12:25
Kyiv: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa penyelenggaraan pemilihan umum saat perang dengan Rusia masih berlangsung dapat "menghancurkan" Ukraina lewat perpecahan di tengah masyarakat.
Pernyataan Zelensky yang dirilis kepada wartawan pada Minggu, 23 Agustus 2026 itu menjadi tanggapan pertamanya setelah mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov secara mengejutkan menyerukan digelarnya pemilu di tengah perang pekan lalu.
"Saya yakin jika kita ingin menghancurkan negara ini, kita bisa menggelar pemilu selama perang seperti saat ini," kata Zelensky, dikutip dari AsiaOne.
Menurutnya, pemilu dalam kondisi perang berisiko memecah Ukraina dan mengganggu upaya mempertahankan negara dari invasi Rusia.
"Pemilu saat ini adalah tsunami bagi negara yang akan memecah Ukraina," ujarnya.
Zelensky mengatakan pemilu saat perang sebenarnya dapat dipertimbangkan jika negara-negara mitra Ukraina mampu memberikan jaminan keamanan. Namun, menurutnya, belum ada pihak yang mengajukan mekanisme tersebut.
Ia menegaskan prioritasnya saat ini adalah mengakhiri perang sekaligus mempertahankan Ukraina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Pemilu selama perang juga dilarang berdasarkan hukum Ukraina. Sejumlah analis menilai penyelenggaraannya akan menghadapi persoalan keamanan, termasuk jutaan warga Ukraina yang berada di luar negeri, wilayah yang diduduki Rusia, maupun mereka yang masih bertugas di garis depan.
Jajak pendapat Kyiv International Institute of Sociology pada 5 Agustus menunjukkan 57 persen warga Ukraina menginginkan pemilu baru digelar setelah perang berakhir.
Masa jabatan Zelensky secara resmi berakhir pada 2024, tetapi pemilu tidak digelar karena kondisi perang dan pemberlakuan darurat militer.
Baca juga: Zelensky Sebut Akhir 2026-2027 Waktu Realistis Akhiri Perang Ukraina