Ilustrasi. Foto: Unplash
Harga Emas Naik Tipis, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Eko Nordiansyah • 26 August 2026 08:13
Chicago: Harga emas dunia menguat tipis pada Selasa, 25 Agustus 2026, seiring pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil (yield) obligasi Treasury. Namun, penguatan harga emas masih terbatas karena investor memilih menahan posisi menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Investing, Rabu, 26 Agustus 2026, harga emas spot naik 0,2 persen dan ditutup pada USD4.658,87 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka (futures) naik 0,4 persen menjadi USD4.716,40 per ons.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar menunggu sejumlah indikator ekonomi yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS.
Pelaku pasar akan mencermati data inflasi yang dirilis Rabu serta pidato pejabat Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat.
Yield Treasury turun, emas kembali dilirik
Di pasar obligasi, yield Treasury AS melanjutkan penurunan selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung harga emas.Penurunan yield terjadi setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS dapat menggunakan dana Treasury General Account (TGA), yang nilainya hampir USD1 triliun, untuk mendukung peningkatan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang.
Langkah tersebut dinilai dapat membantu menahan kenaikan yield, terutama pada obligasi dengan tenor panjang.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)
Namun, sejumlah ekonom dan analis menilai langkah tersebut lebih bersifat jangka pendek. Pasar masih mencermati persoalan fiskal AS setelah total utang pemerintah AS melampaui USD40 triliun.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor terhadap aset keuangan AS. Ketika kekhawatiran fiskal meningkat dan dolar melemah, sebagian investor dapat mengalihkan dana ke aset alternatif, termasuk emas.
Fokus investor beralih ke inflasi dan suku bunga
Emas juga mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS. Secara umum, dolar yang lebih lemah membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya sehingga dapat meningkatkan permintaan.Sebaliknya, kenaikan yield obligasi biasanya meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Karena itu, arah yield Treasury dan kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor penting bagi pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Harga emas telah menguat lebih dari lima persen pada pekan sebelumnya. Penguatan tersebut menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap aset alternatif di tengah perhatian terhadap kondisi fiskal AS dan pergerakan dolar.
Kini, pasar menunggu data inflasi terbaru untuk melihat apakah tekanan harga di AS cukup kuat untuk memengaruhi arah kebijakan moneter.
Pernyataan Kevin Warsh dalam konferensi Jackson Hole juga akan menjadi perhatian karena dapat memberikan sinyal mengenai prospek suku bunga dan kebijakan moneter AS ke depan.
Dengan demikian, pergerakan emas dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi kombinasi data inflasi, arah suku bunga The Fed, yield Treasury, dan pergerakan dolar AS.