Anggota Dewan Komisaris PT Tempo Inti Media, Bambang Harymurti, dalam sebuah acara di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. (Metrotvnews.com)
Bambang Harymurti Sebut Hegemoni Media Barat Mulai Runtuh di Indonesia
Willy Haryono • 24 June 2026 15:15
Jakarta: Dominasi media Barat dalam membentuk persepsi masyarakat Indonesia terhadap isu-isu internasional dinilai semakin berkurang seiring berkembangnya media digital dan platform media sosial yang memungkinkan publik mengakses informasi dari berbagai sumber secara langsung.
Pandangan tersebut disampaikan jurnalis senior sekaligus Anggota Dewan Komisaris PT Tempo Inti Media, Bambang Harymurti, dalam China–Indonesia Think Tank and Media Forum yang berlangsung di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Dalam sesi yang membahas peran media di tengah perubahan global, Bambang mengatakan lanskap informasi Indonesia telah mengalami transformasi besar dibandingkan beberapa dekade lalu.
Menurut Bambang, selama bertahun-tahun banyak media di Indonesia mengandalkan pasokan berita internasional dari kantor-kantor berita Barat seperti Reuters, Associated Press (AP), dan Agence France-Presse (AFP).
Kondisi tersebut secara tidak langsung turut memengaruhi cara pandang media dan publik Indonesia terhadap berbagai isu global, termasuk perkembangan di negara-negara berkembang seperti Tiongkok.
Namun, ia menilai situasi saat ini mulai berubah seiring meningkatnya akses terhadap sumber informasi alternatif dari berbagai belahan dunia.
"Kita mulai bergerak ke arah yang benar. Kita mulai lebih sadar bahwa hegemoni media Barat sekarang sudah jauh berkurang dibandingkan masa lalu," ujar Bambang.
Media Sosial Ubah Pola Konsumsi Informasi
Bambang menjelaskan bahwa perkembangan platform digital telah menciptakan pola konsumsi informasi yang semakin beragam.Menurutnya, audiens saat ini tidak lagi memperoleh informasi hanya dari media arus utama, tetapi juga melalui media sosial seperti TikTok, YouTube, Instagram, dan berbagai platform lainnya.
Perbedaan platform yang digunakan bahkan dapat memengaruhi perspektif publik terhadap isu-isu internasional tertentu.
Ia menilai fenomena tersebut menciptakan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk membandingkan berbagai narasi dan sudut pandang sebelum membentuk opini.
Bambang juga menyoroti meningkatnya akses masyarakat Indonesia terhadap informasi mengenai Tiongkok melalui interaksi langsung maupun pertukaran pendidikan.
Menurutnya, semakin banyaknya jurnalis Indonesia yang melakukan peliputan langsung ke Tiongkok serta meningkatnya jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di negara tersebut turut memperkaya pemahaman publik.
Ia berpendapat generasi muda Indonesia saat ini memiliki peluang lebih besar untuk melihat perkembangan Tiongkok secara lebih objektif dibandingkan generasi sebelumnya.
Menjaga Keseimbangan Strategis
Di akhir pemaparannya, Bambang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam hubungan Indonesia dengan berbagai kekuatan global.Ia mengutip prinsip yang menurutnya sering digunakan untuk menggambarkan pendekatan strategis Indonesia dalam hubungan internasional.
"Kita berbisnis dengan Tiongkok. Kita berdansa secara budaya dengan India. Dan kita memastikan untuk tetap berpatroli bersama Amerika," katanya.
Menurut Bambang, pendekatan tersebut mencerminkan upaya Indonesia untuk menjaga hubungan baik dengan berbagai negara tanpa harus terikat pada satu poros kekuatan tertentu.
Ia menilai prinsip independensi tersebut juga penting diterapkan dalam dunia media agar pemberitaan internasional tetap berimbang dan tidak terjebak pada dominasi narasi dari satu pihak saja.
Dengan semakin beragamnya sumber informasi global, Bambang optimistis masyarakat Indonesia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk membangun pemahaman yang lebih luas dan kritis terhadap dinamika internasional yang terus berkembang. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Akademisi Soroti Lima Tantangan dalam Hubungan Indonesia-Tiongkok yang Kian Erat