Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Foto: Yonhap
Korea Selatan Siapkan Batas Harga BBM di Tengah Krisis Timur Tengah
Muhammad Reyhansyah • 9 March 2026 19:19
Seoul: Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Senin, 9 Maret 2026 meminta jajarannya segera memperkenalkan batas harga bahan bakar domestik.
Ini guna menahan lonjakan harga energi serta mengantisipasi volatilitas di pasar valuta asing di tengah meningkatnya krisis di Timur Tengah.
Lee memimpin rapat antar kementerian untuk menilai perkembangan terbaru setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Teheran di kawasan, yang mendorong harga minyak Brent melampaui USD100 per barel.
Menurut laporan Yonhap News Agency, Lee menilai ketidakpastian ekonomi domestik dan global meningkat tajam seiring memburuknya situasi di Timur Tengah.
Ia menekankan bahwa kondisi tersebut menjadi beban besar bagi ekonomi Korea Selatan yang sangat bergantung pada perdagangan global dan impor energi dari kawasan Timur Tengah.
Lee juga meminta pemerintah menyiapkan langkah antisipatif dengan mempertimbangkan kemungkinan terburuk dari dampak ekonomi akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
“Karena sulit memprediksi bagaimana situasi akan berkembang, pemerintah harus menyiapkan langkah respons lebih awal dengan rasa urgensi, bahkan dengan mempertimbangkan skenario terburuk,” ujar Lee, seperti dikutip Anadolu, Senin, 9 Maret 2026.
Ia meminta pemerintah dan Bank Korea menyiapkan langkah tambahan untuk menghadapi meningkatnya volatilitas di pasar keuangan dan valuta asing.
Lee juga memerintahkan agar program stabilisasi pasar senilai 100 triliun won diperluas jika diperlukan.
Selain itu, pemerintah Korea Selatan berencana bekerja sama dengan negara mitra strategis untuk mencari rute pasokan energi alternatif guna mengantisipasi potensi gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat militer senior.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat, fasilitas diplomatik, serta sejumlah kota di Israel.
Konflik tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama karena menurunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com