King Lear yang disutradarai Tadashi Suzuki, menampilkan Jamaluddin Latif dari Indonesia (kiri) dan Maki Saito dari Jepang (kanan). (Foto: SCOT)
King Lear dan Pertemuan 2 Tradisi Ketubuhan
Patrick Pinaria • 14 September 2026 13:23
Jakarta: Seni pertunjukan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa nilai edukasi, spiritualitas, dan kritik. Dalam perkembangan teater Indonesia, pengetahuan tentang metode akting sering kali lebih banyak merujuk pada tokoh-tokoh Barat. Dalam konteks tersebut, mengenal Tadashi Suzuki menjadi penting, bukan sekadar untuk mempelajari sebuah metode dari Jepang, tetapi juga untuk melihat kembali potensi ketubuhan yang lahir dari tradisi Indonesia.
Metode Suzuki memiliki kedekatan dengan tradisi gerak di Indonesia, seperti posisi tubuh yang rendah, kekuatan kaki, keseimbangan, serta kesiagaan instingtif. Dalam metode ini, tubuh tidak sekadar menjadi alat ekspresi, tetapi juga sumber energi yang perlu dikenali dan disadari.
King Lear yang disutradarai Tadashi Suzuki, menampilkan Wahyu Kurnia dari Indonesia (kiri) dan Antonina Isidora Valderrama Saez dari Chile (kanan). (Foto: SCOT)
Konsep tersebut beresonansi dengan semangat Bumi Purnati Indonesia yang terus mengedepankan ketubuhan tradisi Indonesia dalam karya-karya kontemporer, baik melalui produksi sendiri maupun kolaborasi dengan sutradara-sutradara internasional. Dalam konteks yang lebih luas, proses pembelajaran dan pertukaran tersebut juga dapat dilihat sebagai salah satu bentuk diplomasi budaya.
Semangat itu hadir dalam pementasan King Lear karya William Shakespeare dalam penyutradaraan Tadashi Suzuki. Dunia kerajaan Shakespeare dipindahkan ke sebuah rumah sakit atau ruang perawatan orang tua. Lear tidak hanya tampil sebagai seorang raja yang kehilangan kekuasaan, tetapi juga sebagai seorang lelaki tua yang hidup bersama ingatan dan pikirannya sendiri.
Dalam adaptasi tersebut, kerajaan dapat dibaca sebagai ingatan, pengkhianatan anak-anaknya sebagai trauma, sementara badai menjadi kekacauan dalam tubuh dan pikirannya. Tragedi dibangun bukan melalui melodrama, melainkan melalui tubuh yang tertahan: gerak sedikit, ruang luas, dan suara yang muncul dari tubuh yang nyaris tak mampu menanggung penderitaan.
Semakin sedikit tubuh bergerak, semakin besar kekosongan yang terasa. Pada akhirnya, yang tersisa bukan seorang raja, melainkan manusia tua dalam kesunyian.
Baca Juga :
King Lear Hadir di Jakarta, Membawa Tragedi tentang Kekuasaan, Kehilangan, dan Penyesalan
Setelah bertahun-tahun dimainkan oleh aktor Jerman, lakon King Lear untuk pementasan di Indonesia kali ini akan diperankan oleh Jamaluddin Latif. Ia telah menjalankan pelatihan Metode Suzuki selama bertahun-tahun di bawah payung kerja sama Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia.
Perjalanan Jamal menjadi penting karena metode tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dipelajari secara teoritis. Hasil bertahun-tahun latihan telah membentuk pengalaman ketubuhan yang kemudian dibawa ke atas panggung.
King Lear yang disutradarai Tadashi Suzuki, menampilkan Wahyu Kurnia dari Indonesia (kiri) dan Nana Tatishvili dari Rusia (kanan). (Foto: SCOT)
Pengalaman Jamal menunjukkan bahwa penguasaan metode bukan hanya persoalan keterampilan, melainkan juga konsistensi, disiplin, loyalitas, dedikasi, dan kerendahan hati untuk menerima sebuah pembelajaran.
Hubungan antara SCOT dan Bumi Purnati Indonesia sendiri merupakan sebuah kerja sama yang relatif langka karena mampu bertahan lebih dari sepuluh tahun. Kolaborasi yang dapat bertahan sedemikian lama bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan membangun hubungan yang memungkinkan adanya kepercayaan dan pembelajaran yang didasari pertukaran pengetahuan, disiplin, dan dedikasi.
Dalam perjalanan tersebut, seni menjadi jembatan budaya Indonesia-Jepang. Pengalaman dan pembelajaran dari berbagai kolaborasi seperti inilah yang mendorong Bumi Purnati Indonesia untuk terus mencari, menggali, dan mengembangkan potensi kekayaan tradisi Indonesia.