Dolar AS Tertekan, Pasar Cermati Harga Minyak dan The Fed

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Dolar AS Tertekan, Pasar Cermati Harga Minyak dan The Fed

Ade Hapsari Lestarini • 14 August 2026 08:13

New York: Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan akhir perdagangan Kamis waktu setempat.

Melansir Xinhua, Jumat, 14 Agustus 2026, indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,05 persen menjadi 99,964 pada pukul 15.00 waktu setempat.

Pada perdagangan akhir di New York, euro naik menjadi 1,1529 dolar AS dari 1,1521 dolar AS pada sesi sebelumnya. Sementara pound Inggris turun menjadi 1,3485 dolar AS dari 1,3488 dolar AS pada sesi sebelumnya.

Dolar AS diperdagangkan pada level 159,51 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan 159,49 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS menguat menjadi 0,8139 franc Swiss dari 0,8137 franc Swiss, namun melemah menjadi 1,3936 dolar Kanada dari 1,3947 dolar Kanada. Dolar AS juga turun menjadi 9,5684 krona Swedia dari 9,5858 krona Swedia.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
 

 

Harga minyak tertekan


Harga minyak mentah dunia tercatat turun pada perdagangan Kamis waktu setempat. Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman September turun USD2,02 atau 2,43 persen menjadi USD81,25 per barel di New York Mercantile Exchange.

Melansir Xinhua, Jumat, 14 Agustus 2026, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun USD1,91 dolar atau 2,15 persen menjadi USD87,07 per barel di London ICE Futures Exchange.

Harga minyak melemah setelah sempat mencatat kenaikan baru-baru ini, di tengah ketidakpastian mengenai prospek pengiriman minyak dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.

Kondisi tersebut menyusul klaim kendali atas jalur perairan vital tersebut baik oleh Presiden AS Donald Trump maupun pihak Iran.

"Kami mengakui The Fed telah gagal mencapai target inflasinya selama lima tahun terakhir. Meski demikian, kemajuan tampaknya sedang dicapai dan ekspektasi inflasi konsumen masih berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi, yang mengindikasikan kecilnya risiko dampak putaran kedua terhadap harga akibat lonjakan harga energi," tulis bank ING.

(Ade Hapsari Lestarini)