Tepis Proyeksi Bank Dunia, Pemerintah Pede Ekonomi RI Bisa Melejit hingga 5,5%

Direktur Jenderal Strategi dan Ekonomi Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.

Tepis Proyeksi Bank Dunia, Pemerintah Pede Ekonomi RI Bisa Melejit hingga 5,5%

Richard Alkhalik • 9 April 2026 17:31

Jakarta: Meskipun eskalasi geopolitik global memicu volatilitas harga minyak mentah yang menekan perekonomian nasional, pemerintah tetap optimis laju pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencapai level 5,5 persen. Ini sekaligus menepis ramalan Bank Dunia terhadap ekonomi Indonesia untuk tahun ini yang dipangkas menjadi 4,7 persen.
 
Direktur Jenderal Strategi dan Ekonomi Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, perkiraan Bank Dunia merupakan hal wajar. Karena pada realisasinya, ekonomi Indonesia justru tumbuh lebih tinggi dari perkiraan.
 
Sebagai perbandingan, pada tahun sebelumnya Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia hanya di angka 4,8 persen, namun realisasinya mampu menyentuh 5,1 persen. Menurut Febrio, proyeksi Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia justru dinilai sebagai sinyal positif untuk meyakinkan investor dan memastikan masuknya arus modal ke Indonesia dengan cepat.
 
"World Bank selalu memantau perekonomian kita. Tetapi, estimasi mereka jelas jauh dari di bawah kita. Dan tahun lalu ingat enggak mereka bilang 4,8 (persen) kita jatuhnya 5,1 (persen). Jadi enggak apa-apa," jelas Febrio di Auditorium Bakom RI, Jakarta Pusat, Kamis, 9 April 2026.
 

Baca juga: Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7% pada 2026


(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
 

Defisit APBN dijaga, maksimal 2,9%

 
Febrio melanjutkan, optimisme menggeliatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa mencapai angka 5,5 persen tersebut dilakukan dengan tetap menjaga defisit di sekitar 2,9 persen. Didorong dengan adanya penguatan dan kontribusi dari beberapa sektor fundamental seperti 50 persen dari biaya konsumsi, belanja pemerintah sekitar 8-9 persen, investasi 30 persen, serta ekspor sekitar 25 persen.
 
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan terus melakukan transformasi struktural pada sektor-sektor fundamental seperti sektor pertanian yang mampu menyerap tenaga kerja hingga 40 juta.
 
Febrio optimis ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,5 persen dengan eksekusi kebijakan terukur, mulai dari penguatan pada belanja sektor pertanian melalui ketersediaan pupuk sejak awal tahun, peningkatan volume panen termasuk beras yang naik 13-14 persen, hingga tingginya serapan produk pertanian akibat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
 
"Pertumbuhan sektor pertanian itu di atas lima persen dan lebih penting lagi pertumbuhan sektor tanaman pangan itu di atas sembilan persen. Jadi memang terjadi perubahan struktur dari perekonomian," papar Febrio.
 
Di saat yang sama, Febrio mengungkapkan perhatiannya pada sektor manufaktur yang juga mengalami pertumbuhan hingga 5,4 persen, yang biasanya tertahan di bawah angka lima persen. Berdasarkan hal itu, ia mengatakan pertumbuhan perekonomian nasional memang sangat dinamis.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)