Spesifikasi F-15E Strike Eagle, Jet AS yang Ditembak Jatuh Iran

Jet Tempur F-15 Strike Eagle. (Dok. Angkatan Udara)

Spesifikasi F-15E Strike Eagle, Jet AS yang Ditembak Jatuh Iran

Riza Aslam Khaeron • 7 April 2026 19:07

Teheran: Iran berhasil menembak jatuh jet tempur milik Amerika Serikat (AS). Peristiwa ini menjadi kehilangan pesawat tempur berawak pertama bagi AS di wilayah udara Iran pada Jumat, 3 April 2026, sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 lalu.

Berdasarkan laporan Reuters pada hari Jumat, 3 April 2026, jet tempur ditembak jatuh yang awalnya diklaim sebagai jenis F-35 oleh Teheran tersebut ternyata merupakan jet tempur F-15E Strike Eagle.

Jet tempur produksi Washington ini dikenal sebagai salah satu pesawat tempur modern paling sukses dalam sejarah.

Tercatat, jet ini memiliki rekor 106 kemenangan tanpa satu pun kekalahan dalam pertempuran udara-ke-udara, di mana mayoritas kemenangan tersebut diraih oleh Angkatan Udara Israel.

Namun, ini bukan pertama kalinya jet tempur F-15 maupun variasi F-15E berhasil dijatuhkan dalam sebuah konflik.

Sebelumnya, pada 1 Maret 2026, tiga unit F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS jatuh di Kuwait barat akibat salah tembak (friendly fire) dari pasukan Kuwait saat tengah menghalau serangan balasan dari Iran.

Melansir Forbes, dua unit F-15E Strike Eagle Angkatan Udara AS juga dipastikan pernah ditembak jatuh oleh tembakan darat Irak pada Perang Teluk 1991, dan satu unit F-15E lainnya hilang dalam Perang Irak tahun 2003.

Pasukan Taliban juga sempat mengklaim telah menembak jatuh Strike Eagle pada Juli 2009 yang menewaskan kedua awaknya. Namun, pejabat AS menyatakan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh "kesalahan prosedur pemeriksaan" selama penerbangan pelatihan rutin.

Lantas, bagaimana spesifikasi jet tempur yang kini berhasil dilumpuhkan oleh Iran tersebut? Berikut adalah rincian spesifikasinya.
 

Baca Juga:
Pilot Jet Tempur Berhasil Diselamatkan, Trump Klaim sebagai Operasi Ajaib
 

Spesifikasi dan Dimensi F-15E


Ilustrasi F-15E Strike Eagle. (Angkatan Udara AS)

F-15E Strike Eagle adalah jet tempur dual-role yang mampu menjalankan misi udara-ke-udara maupun udara-ke-permukaan.

Pesawat ini diawaki oleh dua orang, yakni pilot dan Weapon Systems Officer (WSO). Pembagian tugas ini memungkinkan keduanya bekerja secara simultan: pilot menangani ancaman udara sementara WSO mengincar serta menghancurkan target di darat.

Melansir laman Angkatan Udara AS, berikut adalah dimensi utama F-15 Strike Eagle:
  • Fungsi Utama: Pesawat serang udara-ke-darat.
  • Produsen: The Boeing Company.
  • Mesin: Dua turbofan Pratt & Whitney F100-PW-220 atau 229 dengan afterburner.
  • Daya Dorong: 25.000–29.000 pon per mesin.
  • Lebar Sayap: 42,8 kaki (13 meter).
  • Panjang: 63,8 kaki (19,44 meter).
  • Tinggi: 18,5 kaki (5,6 meter).
  • Berat Kosong: 37.500 pon (17.010 kg).
  • Berat Lepas Landas Maksimum: 81.000 pon (36.450 kg).
  • Kapasitas Bahan Bakar: 35.550 pon (tiga tangki eksternal ditambah tangki conformal).
  • Kecepatan Maksimum: 1.875 mph (Mach 2,5+).
  • Jangkauan: 2.400 mil (3.840 km) dengan tangki conformal dan tiga tangki eksternal.
  • Plafon Terbang: 60.000 kaki (18.288 meter).
  • Persenjataan: Kanon internal 20mm (500 peluru); empat AIM-9 Sidewinder dan empat AIM-120 AMRAAM, atau delapan AIM-120 AMRAAM; serta seluruh inventaris senjata udara-ke-permukaan AU AS (nuklir dan konvensional).
  • Awak: Pilot dan Weapon Systems Officer (WSO).
  • Harga Satuan: USD 31,1 juta (nilai konstan tahun fiskal 1998).
  • Kemampuan Operasional Awal: September 1989.
  • Inventaris AS: Total 219 unit per April 2019.
     

Sistem Navigasi dan Radar


Radar APG-70 di kokpit F-15E Strike Eagle. (Youtube/RAZBAM Simulations Official Channel)

Berdasarkan keterangan Angkatan Udara AS, F-15E menggunakan sistem navigasi laser gyro yang dipadukan dengan GPS. Sistem ini secara terus-menerus memperbarui posisi pesawat dan mengirimkan data ke komputer pusat serta peta digital bergerak di kedua kokpit.

Radar APG-70 memungkinkan kru mendeteksi target darat dari jarak jauh. Salah satu keunggulan sistem ini adalah kemampuannya untuk "membekukan" peta udara-ke-darat setelah memindai area target, lalu beralih kembali ke mode udara-ke-udara untuk memantau ancaman tanpa jeda yang berarti.
 

Sistem LANTIRN


Lantirn di pesawat F-15. (Dok. Angkatan Udara AS via Wikimedia Commons)

Sistem Low-Altitude Navigation and Targeting Infrared for Night (LANTIRN) merupakan salah satu keunggulan terbesar F-15E. Terdiri atas dua pod yang dipasang di eksterior pesawat, LANTIRN memungkinkan jet ini terbang di ketinggian sangat rendah pada malam hari maupun dalam kondisi cuaca buruk untuk menyerang target dengan senjata presisi.

Pod navigasinya dilengkapi radar terrain-following yang dapat dihubungkan ke autopilot, memberikan kemampuan terbang rendah secara otomatis. Sementara itu, pod penargetan berisi laser designator yang menandai target musuh dari jarak jauh dan mengirimkan datanya ke bom berpemandu GPS atau laser.
 

Mesin dan Bahan Bakar

F-15E ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney F100-PW-220 atau 229 dengan teknologi digital canggih. Pilot dapat memacu mesin dari daya idle ke afterburner penuh dalam waktu kurang dari empat detik—40% lebih cepat dibandingkan sistem sebelumnya.

Tangki bahan bakar conformal yang menempel di badan pesawat mampu menyimpan 750 galon bahan bakar sekaligus berfungsi sebagai dudukan senjata dengan pylon pendek untuk meminimalkan hambatan udara.
 

Persenjataan


AIM-120 AMRAAM. (Dok. Angkatan Udara AS)

Untuk misi udara-ke-darat, F-15E dapat membawa hampir seluruh jenis senjata dalam inventaris Angkatan Udara AS, termasuk senjata nuklir dan konvensional. Untuk misi udara-ke-udara, pesawat ini dipersenjatai dengan rudal AIM-9M Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM. Sebagai pertahanan terakhir, tersedia kanon internal 20mm yang dapat menampung hingga 500 butir peluru.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)