Pramono Targetkan 10 Ribu Bus Listrik di Jakarta pada 2030

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Metro TV/Aris Setya.

Pramono Targetkan 10 Ribu Bus Listrik di Jakarta pada 2030

Nattasya Amani Vrazeti • 20 August 2026 15:28

Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan pengoperasian lebih dari 10 ribu bus listrik pada 2030. Ia mengungkapkan saat ini armada bus listrik di Jakarta baru mencapai sekitar 500 unit. 

“Jakarta sendiri saya menargetkan di tahun 2030, yang sekarang ini pada saat saya bicara ini kurang lebih 500 bus elektrik, saya menargetkan di 2030 adalah 10.000 lebih bus elektrik,” kata Pramono di Jakarta Selatan, Kamis 20 Agustus 2026. 

Selain itu, ia berencana mendorong penggunaan kendaraan berbahan bakar hidrogen serta hibrida. Langkah ini untuk membuka ruang keterlibatan seluruh pihak dalam menurunkan emisi di ibu kota.

“Bukan hanya bus elektrik, tapi juga hidrogen dan juga hibrida, supaya ini memberikan ruang, memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin menurunkan emisi di Jakarta itu bisa bersama-sama dengan Pemerintah DKI Jakarta,” ujar Pramono. 

Pramono menegaskan  transisi ke kendaraan ramah lingkungan ini penting untuk menekan polusi udara di Jakarta. Kendati demikian, ia mengakui persoalan emisi di ibu kota perlu adanya koordinasi dengan pemerintah pusat untuk menangani hal tersebut.

“Sehingga dengan demikian, saya sebagai Gubernur Jakarta berharap bahwa ada juga koordinasi dengan pemerintah pusat agar yang memberikan kontribusi menyebabkan emisi yang masih tinggi itu bisa diatur bersama-sama," ungkap Pramono.

Bus listrik milik DAMRI. Foto: dok DAMRI.

Ia menyoroti masalah emisi bukan semata-mata karena transportasi di Jakarta. Melainkan, keberadaan industri dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara di daerah penyangga, seperti PLTU Suralaya, yang masih menggunakan bahan bakar tidak ramah lingkungan dan menjadi salah satu penyumbang utama polusi.

“Tetapi memang problem-nya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan-persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di selingkaran Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan,” ujar Gubernur.

Lebih lanjut, Pramono megungkapkan peningkatan pengguna transportasi publik yang cukup signifikan, didukung oleh tingkat konektivitas yang kini mencapai 93 persen. Menurutnya, saat ini pengguna transportasi meningkat dari 23 persen menjadi 31 persen.

"Ada peningkatan hampir 14 persen sebenarnya,” kata Pram.

Ia menambahkan lonjakan pengguna transportasi umum tersebut tak lepas dari kebijakan pembebasan tarif bagi 15 golongan masyarakat, serta perluasan rute Transjabodetabek ke daerah penyangga. Namun, kenaikan ini disebut harus diimbangi dengan persiapan Jakarta menjadi lebih ramah terhadap emisi.

"Kemarin Jakarta seperti teman-teman ketahui nomor lima, tetapi memang terburuk di dunia, dan saya harus mengakui itu,” ungkap Pram.

(Siti Yona Hukmana)