Ditipu Dua Kali, Iran Tak Percaya AS Mau Negosiasi

Iran tidak percaya Amerika Serikat mau negosiasi. Foto: Anadolu

Ditipu Dua Kali, Iran Tak Percaya AS Mau Negosiasi

Fajar Nugraha • 25 March 2026 17:56

Washington: Iran menyatakan tidak mempercayai Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah negara mediator yang mencoba memediasi, berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Menurut laporan Axios, perundingan antara AS dan Iran telah dua kali gagal. Pada Juni, Israel dengan dukungan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran menjelang putaran pembicaraan, sementara pada Februari, AS dan Israel melancarkan serangan setelah tercapai kesepakatan awal terkait isu nuklir.

“Kami tidak ingin tertipu lagi,” kata salah satu sumber seperti dikutip Axios, Rabu 25 Maret 2026, yang dilansir dari Antara.

Iran juga disebut telah menyampaikan kepada otoritas Pakistan, Mesir, dan Turki bahwa peningkatan kehadiran militer AS di kawasan semakin memperkuat kekhawatiran Teheran bahwa tawaran perundingan damai dari Trump mungkin hanya strategi.

Pada Selasa, Trump mengatakan telah menunjuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner sebagai tim negosiasi AS dengan Iran.

Ia menambahkan proses negosiasi kembali dilanjutkan pada Minggu dan menunjukkan keseriusan Teheran untuk mencari penyelesaian konflik.

Namun, pada Senin, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyangkal pernyataan Trump dan menyatakan negaranya belum menggelar pembicaraan dengan AS dan menilai adanya berita palsu yang digunakan untuk memengaruhi pasar.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

AS dan Israel awalnya menyatakan bahwa serangan “pendahuluan” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran, namun kemudian menegaskan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di negara tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)