Ilustrasi dolar AS. Foto: marketplace.org
Dolar AS Kembali Bangkit Setelah Tumbang 2 Hari Berturut-turut
Gervin Nathaniel Purba • 7 November 2026 11:57
New York: Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Jumat, waktu setempat.
Dolar AS bangkit dari tren penurunan selama dua hari berturut-turut dan mengarah pada keuntungan mingguan, setelah laporan lapangan kerja yang melampaui perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari Xinhua, Sabtu, 7 November 2026, indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,74 persen menjadi 102,298 pada pukul 15.00 waktu setempat (20.00 GMT).
Dalam perdagangan akhir di New York, euro melemah menjadi 1,1140 dolar AS dari 1,1225 dolar pada sesi sebelumnya. Sementara poundsterling turun menjadi 1,3351 dolar AS dari 1,3459 dolar AS pada sesi sebelumnya.
Selain itu, dolar AS diperdagangkan pada level 158,49 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan 157,85 yen Jepang pada sesi sebelumnya.
Dolar AS menguat ke 0,8206 franc Swiss dari 0,8165 franc Swiss, dan naik ke 1,4132 dolar Kanada dari 1,3998 dolar Kanada. Dolar AS juga menguat ke 9,8988 krona Swedia dari 9,7948 krona Swedia.
Pasar tenaga kerja AS tetap bertenaga
Para pelaku pasar mata uang berfokus pada kalender ekonomi AS pada Jumat, laporan lapangan kerja Oktober menjadi perhatian utama.
Menurut Bureau of Labor Statistics AS, seperti dikutip dari Investing, total lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) naik 165 ribu pada bulan lalu. Melonjak jauh melampaui estimasi konsensus yang sebesar 65 ribu.
Angka penyerapan tenaga kerja untuk Agustus dan September juga direvisi naik, dengan gabungan sebesar 84 ribu. Sementara itu, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,1 persen dari 4,2 persen pada September.
Mata uang Dolar AS. (Freepik)
Dengan inflasi yang masih berjalan jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar dua persen, laporan yang cemerlang ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tetap sangat kuat. Secara teori, hal ini memberi bank sentral lebih banyak ruang untuk menaikkan suku bunga—sebuah skenario yang dapat memicu tekanan lebih lanjut bagi Wall Street.
The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, di mana para pembuat kebijakan mengindikasikan bahwa inflasi yang persisten kemungkinan akan memicu kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menyampaikan kenaikan suku bunga seperempat poin lagi pada 9 Desember, naik menjadi hampir 79 persen setelah rilis data lapangan kerja, dari yang sebelumnya hampir 73 persen. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung memperkuat nilai tukar dolar.
"Semua indikasi mengarah pada penguatan pasar tenaga kerja dalam tiga bulan terakhir. Setelah revisi pada bulan-bulan sebelumnya serta angka bulan Oktober yang lebih kuat dari perkiraan, AS kini menambah lapangan kerja dengan laju 120–130 ribu per bulan, lebih dari cukup untuk terus menekan tingkat pengangguran," kata Jeffrey Cleveland, kepala ekonom di Payden & Rygel.