Kepala BPGMN Janji Pulihkan Ekosistem Gambut dan Mangrove

Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Satyawan Pudyatmoko. Foto: Bakom RI.

Kepala BPGMN Janji Pulihkan Ekosistem Gambut dan Mangrove

Anggi Tondi Martaon • 15 October 2026 19:23

Jakarta: Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Satyawan Pudyatmoko, berjanji memulihkan ekosistem gambut agar kembali basah dan lembap. Upaya tersebut akan dilakukan melalui pemetaan dan penyekatan kanal, serta pelibatan masyarakat dalam memilih komoditas yang ramah lingkungan.

Setyawan menjelaskan gambut mudah terbakar ketika sifat alami berubah dari basah menjadi kering. Menurut dia, kanal yang mengalirkan air keluar dari lahan gambut menjadi salah satu penyebab kekeringan, terutama saat musim kemarau.

“Gambut terbakar karena ada upaya untuk mengubah sifat alami gambut, dari yang sifatnya basah dan lembap menjadi kering. Ini adalah problem utama dalam pengelolaan gambut di Indonesia,” kata Setyawan melalui keterangan tertulis, Kamis, 15 Oktober 2026.

Setyawan mengatakan pemulihan akan diawali dengan membuat gambut kembali basah. Salah satu langkah yang disiapkan ialah memetakan kanal dan membangun sekat agar air tidak cepat terbuang. 
 


Selain memulihkan tata air, BPGMN akan mendorong warga mengembangkan komoditas yang lebih sesuai dengan karakter lahan gambut. Menurut dia, sagu, jelutung, dan nanas sebagai contoh tanaman yang dapat dikembangkan. 

“Kita juga harus bekerja sama dengan masyarakat, mengaktifkan peran masyarakat dalam mengelola gambut agar tidak membudidayakan komoditas-komoditas yang tidak ramah air,” ungkap Setyawan.

Sementara itu, Wakil Kepala BPGMN, Mayjen Sriyanto, menekankan pemulihan gambut dan mangrove perlu berjalan seiring dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dia menyebut kedua ekosistem tersebut memiliki potensi yang bisa digarap tanpa mengabaikan kelestariannya.

Sriyanto mencontohkan sagu sebagai komoditas yang berpotensi dikembangkan di lahan gambut. Menurut dia, langkah itu dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

“Sagu ternyata sangat potensial untuk dikembangkan di lahan gambut. Jadi, masyarakat harus langsung menerima manfaat dari penanaman sagu di lahan gambut,” kata Sriyanto.

Potensi ekonomi, lanjut Sriyanto, juga dapat dikembangkan di kawasan mangrove melalui perikanan dan pariwisata yang menjaga fungsi ekosistem. Dia mengingatkan agar pengembangan usaha tidak merusak mangrove.

“Begitu juga di mangrove. Ada ikan-ikan yang bisa dikembangkan. Kita jangan membuat tambak yang merusak mangrove, tetapi bagaimana ekosistem yang dikembangkan bisa mendukung pariwisata dan pengembangan perikanan yang aman,” ujar Sriyanto.

(Anggi Tondi)