PLN Gandeng The Climate Group Buka Peluang Investasi Energi Terbarukan

Penandatanganan MoU Kerja Sama Riset dan Anailisis Permintaan Listrik Hijau di Indonesia antara PLN dan The Climate Group di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026 (Foto:Dok.PLN)

PLN Gandeng The Climate Group Buka Peluang Investasi Energi Terbarukan

Duta Erlangga • 8 October 2026 08:42

Jakarta: PT PLN (Persero) dan The Climate Group resmi menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk memperkuat pengembangan produk energi hijau sekaligus membuka peluang investasi energi terbarukan di Indonesia.
 
Kerja sama tersebut ditandatangani dalam agenda Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026. Kolaborasi ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan dunia usaha terhadap energi terbarukan dengan pengembangan solusi energi hijau di Indonesia.


Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menyampaikan keynote speech pada Opening Ceremony Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026 (Foto:Dok. PLN)

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan yang besar, mulai dari panas bumi, tenaga surya, hingga tenaga air. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal dalam pengembangan ekosistem energi berkelanjutan.
 
“Kami adalah bangsa yang cinta damai, yang menarik investor dan sahabat dari berbagai penjuru dunia. Indonesia diberkahi geothermal. Indonesia diberkahi sinar matahari, sumber daya air, tenaga hidro. Kita memiliki banyak sumber energi yang merupakan bagian dari sektor berkelanjutan,” ujar Hashim.
 

 
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pengembangan energi terbarukan menjadi bagian dari upaya PLN menjawab kebutuhan industri sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
 
“PLN tidak hanya menyediakan listrik, tetapi juga membangun ekosistem energi yang mampu menjawab kebutuhan investasi dan pertumbuhan industri. MoU dengan The Climate Group menjadi bagian dari upaya strategis untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan global terhadap energi terbarukan dengan pengembangan solusi energi hijau di Indonesia. Melalui penyediaan energi yang andal, berkualitas, dan semakin hijau, PLN ingin mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ucap Darmawan.


Aerial view Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu yang berlokasi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas total 10 MW (Foto:Dok. PLN)

Darmawan menyebut kebutuhan terhadap energi hijau terus meningkat. Pada 2025, jumlah pelanggan Renewable Energy Certificate (REC) PLN mencapai 18.715 pelanggan dengan volume energi 6,43 TWh, naik dari 7.354 pelanggan dengan volume 5,38 TWh pada 2024.
 
Permintaan tersebut antara lain berasal dari sektor pertambangan, manufaktur, kimia, pulp dan kertas, makanan, serta pusat data.
 
“Selain membutuhkan listrik yang andal, dunia usaha kini membutuhkan listrik yang semakin hijau, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara global. Kami ingin memastikan bahwa setiap kebutuhan energi hijau dari industri dapat kita jawab dengan solusi yang kredibel, sekaligus mengoptimalkan kekayaan energi terbarukan Indonesia guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Darmawan.
   
Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PLN M. Fahrur Rozy mengatakan kerja sama dengan The Climate Group diharapkan memperkuat ekosistem energi hijau sekaligus menghubungkan kebutuhan energi terbarukan dengan peluang investasi.
 
“Melalui kemitraan kami dengan The Climate Group, kami bertujuan untuk memperkuat hubungan antara permintaan energi hijau yang terus tumbuh dan pengembangan solusi energi terbarukan di Indonesia, serta membuka peluang investasi baru,” ujar Rozy.
 

Tampak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica dengan kapasitas 180 megawatt (MW) yang berada di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah (Foto:Dok. PLN)

Melalui MoU tersebut, kedua pihak juga akan melakukan identifikasi kebutuhan energi terbarukan dari anggota RE100 yang beroperasi maupun berencana berinvestasi di Indonesia. Kolaborasi mencakup studi, asistensi teknis, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, kajian Nilai Ekonomi Karbon (NEK), serta penguatan transparansi dan kredibilitas perhitungan emisi dalam transaksi REC.
 
”Kami akan mengembangkan produk energi hijau melalui studi, asistensi teknis, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Kolaborasi ini juga mencakup kajian penerapan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), peningkatan transparansi dan kredibilitas perhitungan emisi dalam transaksi Renewable Energy Certificate (REC), serta riset kebijakan ketenagalistrikan,” kata Rozy.
 
CEO The Climate Group Helen Clarkson mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Namun, investasi bisnis diperlukan untuk mengembangkan proyek energi bersih dan memperluas akses terhadap listrik terbarukan.
 
“Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi kekuatan besar di bidang energi terbarukan, namun untuk mengoptimalkan potensi tersebut diperlukan investasi bisnis yang besar pada proyek-proyek energi bersih baru,” kata Helen.
 
Ia menambahkan, kerja sama dengan PLN diharapkan dapat mendukung ketahanan energi, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan energi terbarukan.

(Rosa Anggreati)