Kenaikan Harga Pangan Jadi Pendorong Utama Inflasi Mei 2026

ilustrasi pedagang cabai. Foto: Metrotvnews.com/Surya Mahmuda

Kenaikan Harga Pangan Jadi Pendorong Utama Inflasi Mei 2026

Eko Nordiansyah • 2 June 2026 15:15

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kenaikan harga pangan seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat dan beras menjadi pendorong utama inflasi bulanan Mei 2026 yang tercatat sebesar 0,28 persen (month to month/mtm).

"Inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau tercatat sebesar 0,39 persen dengan andil sebesar 0,12 persen," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 2 Juni 2026.

Secara rinci, cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras memiliki andil terhadap inflasi umum masing-masing sebesar 0,08 persen; 0,04 persen; 0,04 persen; 0,03 persen; dan 0,02 persen.

Komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi adalah bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen, bensin dan tarif angkutan udara dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang juga memberikan andil peredam inflasi.

Komoditas tersebut di antaranya adalah daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang putih dengan masing-masing andil deflasi sebesar 0,06 persen; 0,05 persen; dan 0,01 persen.

Inflasi komponen inti dan harga diatur pemerintah

Pada Mei 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan secara bulanan menjadi sebesar 111,40 dari bulan sebelumnya yang sebesar 111,09.

Berdasarkan komponennya secara bulanan, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil inflasi sebesar 0,14 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti ini adalah minyak goreng, telepon seluler, laptop atau notebook, kemudian pelumas atau oli mesin, nasi dengan lauk, dan pemeliharaan atau service.
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,52 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,10 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga diatur pemerintah adalah bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan solar.

Di sisi lain, komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak ini adalah cabai merah, bawang merah, tomat, beras dan sawi hijau.

Inflasi tahunan capai 3,08%

Adapun secara tahunan (year on year/yoy), IHK mengalami kenaikan dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,40 pada Mei 2026 sehingga inflasi tahunan sebesar 3,08 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,94 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 1,43 persen.

Komoditas dengan andil deflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini adalah ikan segar, beras, daging ayam beras, minyak goreng, cabai rawit, sigaret kretek mesin dan cabai merah.

Kelompok pengeluaran lainnya yang juga mengalami inflasi tahun ke tahun terutama adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi sebesar 10,35 persen dan memberikan andil sebesar 0,70 persen. Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditi emas perhiasan.

Berdasarkan komponennya, komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,59 persen dan memberikan andil inflasi terbesar dengan andil inflasi sebesar 1,66 persen.

Sementara komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 2,07 persen dengan andil inflasi sebesar 0,40 persen, serta komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 6,24 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 1,02 persen.

(Eko Nordiansyah)