Ilustrasi penurunan harga minyak. Foto: Energyintel.com
Harga Minyak Dunia Ambruk Lebih dari 6%
Husen Miftahudin • 10 March 2026 09:23
Houston: Harga minyak dunia turun pada perdagangan Selasa setelah mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada sesi sebelumnya.
Ini terjadi karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan mengakhiri perang di Timur Tengah, sehingga meredakan kekhawatiran tentang gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak global.
Mengutip Investing.com, Selasa, 10 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional, turun USD6,51 atau 6,6 persen menjadi USD92,45 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai harga patokan untuk pasar domestik AS, turun USD6,12 atau 6,5 persen menjadi USD88,65 per barel.
Harga minyak sempat mengalami lonjakan hingga melebihi level USD100 per barel pada Senin kemarin, dan mencapai level tertinggi pada sesi perdagangan tersebut sebesar USD119,50 untuk Brent dan USD119,48 untuk WTI, tertinggi sejak pertengahan 2022.
Ini terjadi karena pengurangan pasokan oleh Arab Saudi dan produsen lainnya selama perang AS-Israel yang meluas dengan Iran memicu kekhawatiran akan gangguan besar terhadap pasokan global.
Harga minyak kemudian turun setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Trump dan berbagi proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang Iran, menurut seorang ajudan Kremlin, sehingga meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan.
| Baca juga: Meroket Lebih dari 20%, Harga Minyak Dunia Sentuh USD111/Barel |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Trump akan akhiri perang dengan Iran
Trump mengatakan ia berpikir perang melawan Iran 'sudah sangat lengkap' dan Washington menjadi jauh lebih maju dari perkiraan jangka waktu awal perang yang diprediksi akan berlangsung selama empat hingga lima minggu.
Para produsen minyak Teluk mulai memangkas produksi karena perang AS-Israel di Iran mengganggu pengiriman di wilayah tersebut. Selama akhir pekan, Irak memangkas produksi di ladang minyak utama selatannya sebesar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari, sementara Kuwait Petroleum Corporation juga mulai mengurangi produksi dan menyatakan keadaan kahar (force majeure).
Negara-negara G7 mengatakan mereka siap untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap melonjaknya harga minyak global, tetapi tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.